Kuliner Mataram

Inilah Serabi Sasak, Menu Sarapan Ringan Khas Mataram, NTB, Bulat, Manis, Lembut di Mulut, Mak Nyus!

Inilah serabi sasak, kudapan untuk sarapn khas di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bulat, manis, lembut saat di mulut, mak nyus!

Inilah Serabi Sasak, Menu Sarapan Ringan Khas Mataram, NTB, Bulat, Manis, Lembut di Mulut, Mak Nyus!
Kompas TV / Fitri Rahmawati
Serabi sasak, menu sarapan khas Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) 

Inilah serabi sasak, kudapan untuk sarapn khas di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bulat, manis, lembut saat di mulut, mak nyus!

TRIBUNMATARAM.COM - Jika Anda inginkan sarapan yang berbeda dengan sedikit teknik memburu makanan yang jarang ditemukan, Anda bisa memilih sarapan dengan serabi sasak di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bentuknya tak sempurna bulat, berukuran lingkaran yang kita bentuk dari ujung jempol dan ujung jari telunjuk tangan kita, berbahan tepung beras, dan dibakar di atas api kecil yang biru.

"Ini saya siapkan sejak jam 3 malam, menyiapkan semua bahan bahan jualan, ada nasi, bubur tapi yang utama serabi ini.

Untuk serabi harus benar perhitungannya bahannya agar terasa enak dan lembut di mulut," kata Hj. Mahuri, Minggu (7/1/2018) sambil melayani para pembelinya yang terus berdatangan.

Serabi sasak khas Mataram
Serabi sasak khas Mataram ()

10 Pantai Surga Dunia di NTB, Senggigi, Rantung, Lawar, Gili Meno, Ini yang Paling Disuka Lady Diana

Mahuri adalah satu dari sejumlah pedagang serabi yang tersisa di Kota Mataram.

Mahuri warga Karang Pule, Kecamatan Tanjung Karang Mataram, memilih menjajakan lapak kecil serabi sasaknya di lapangan Perumnas, Kota Mataram.

Hj. Mahuri, seorang pedagang serabi yang masih bertahan di Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Serabinya dikenal enak, tidak salah jika dia bertahan hingga 20 tahun lamanya.
Hj. Mahuri, seorang pedagang serabi yang masih bertahan di Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Serabinya dikenal enak, tidak salah jika dia bertahan hingga 20 tahun lamanya.(KOMPAS.COM/FITRI)

Mahuri dikenal sangat akrab warga sekitar, mereka merasa Mahuri adalah bagian dari perjalanan masa kanak-kanak mereka di Perumnas. Bahkan jika ada yang tak kebagian serabi buatannya, pasti menangis.

Pemandangan itu langsung dilihat Kompas.com saat ikut memburu serabi Mahuri.

"Serabinya habis, coba saya tanya apa ada yang mau berbagi serabi. Ada ini!" jawab Mahuri tak mau mengecewakan pembelinya meskipun hanya seorang anak-anak.

Halaman
12
Editor: Agung Budi Santoso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved