Breaking News:

Blak-blakan Calon Senator NTB, Evi Apita, Editan Fotonya Kelewat Cantik 'Foto Presiden Aja Diedit'

Evi Apita Maya, calon anggota DPD RI alias senator asal NTB blak-blakan soal editan foto wajahnya yang kelewat cantik. "Foto presiden aja diedit!"

KPU NTB/ Kompas.com
Evi Apita Maya, calon anggota DPD RI dari NTB 

Evi Apita Maya, calon anggota DPD RI alias senator asal NTB blak-blakan soal editan foto wajahnya yang kelewat cantik. "Foto presiden aja diedit!"

TRIBUNMATARAM.COM, JAKARTA - Calon anggota DPD RI dari NTB, Evi Apita Maya (45), selaku pihak Terkait terpaksa ke Jakarta guna melayani gugatan calon petahana Farouk Muhammad (69) di Mahkamah Konstitusi (MK).

Sebab, Faoruk menggugat hasil Pemilu DPD RI 2019 untuk NTB lantaran Evi dianggap menggunakan foto cantik hasil manipulasi atau editing berlebihan dan diduga melakukan politik uang.

Evi dianggap berbuat tidak jujur karena menggunakan foto berparas cantik dengan editan berlebihan sehingga menipu calon pemilih. Foto berparas cantik hasil editan itu digunakan untuk alat peraga kampanye (APK) dan diserahkan Evi ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk surat suara.

Hal itu dianggap melanggar administrasi dan pelanggaran proses pemilu.

Hasil Pemilu DPD RI untuk NTB menempatkan Evi Apita Maya sebagai peraih suara terbanyak, dengan 283.932 suara.

Kasus Editan Foto Caleg DPD NTB Evi Apita Jadi Lebih Cantik Jelita, Hakim MK: Menarik Sekali Ini!

Perolehan suara Evi mengalahkan secara telak sejumlah calon petahana, termasuk Faoruk Muhammad. Farouk hanya memperoleh 188.687 suara sehingga gagal melenggang kembali ke Senayan untuk kali ketiga.

Ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2019), Evi mengungkapkan foto yang diserahkannya untuk pendaftaran calon anggota DPD RI ke KPU adalah foto asli dirinya yang terbaru.

Ia mengaku melakukan pengambilan atau pemotretan di studio foto lokal bernama Blitz di Mataram, NTB, untuk foto yang diserahkan ke KPU.

Caleg DPD Dapil NTB Evi Apita Maya di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2019).(Kompas.com/Fitria Chusna Farisa)
Caleg DPD Dapil NTB Evi Apita Maya di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2019).(Kompas.com/Fitria Chusna Farisa) ((Kompas.com/Fitria Chusna Farisa))

Namun, sebelum sesi foto tersebut, ia mengaku bersolek di salon kecantikan, Permata Hati.

Studio foto yang digunakan jasanya oleh Evi adalah langganan dirinya dan sejumlah politikus lokal.

Ia mengaku membayar Rp 1,5 juta untuk jasa foto tersebut, termasuk proses editing. Hasil jepretan fotografer studio itu lah yang digunakannya saat mendaftar calon anggota DPD RI k KPU.

Bagi Evi, adalah wajar jika seorang calon memberikan foto yang terbaik untuk kompetisi perebutan suara masyarakat.

Namun, bukan berarti dirinya memberikan foto hasil rekayasa secara berlebihan atau di luar batas wajar.

Berikut petikan wawancara ekslusif reporter Tribun Network, Reza Deni Saputra, dengan calon anggota DPD RI asal NTB, Evi Apita Maya:

Bagaimana mulanya Anda memasang foto-foto di APK, kemudian dituding bahwa Anda terlalu berlebihan mengedit wajah di foto tersebut?

Kalau memasang foto itu awal mulanya biasa-biasa aja, itu kan memang seperti biasa orang yang berkompetisi pasti memberikan foto yang terbaik dan itu hal yang wajar. Saya juga tidak mengerti, kok sampai ini berlanjut ke Mahkamah Konstitusi.

Jadi, Anda tidak menyangka salama sekali bahwa tudingan kepada Anda ini sampai gugatan ke MK?

Tidak menyangka banget sampai segitunya karena bagi saya ini tidak ada hal yang salah.
Pak Farouk itu mengajukan keberatan itu sewaktu penghitungan suara tingkat provinsi di tahap akhir.

Saya dinyatakan tertinggi suaranya, saat itulah pihak Pak Farouk mengajukan keberatan bahwa saya menggunakan foto yang diedit terlalu berlebihan. 

Sebelum perhitungan di Provinsi NTB berarti tidak ada keberatan soal foto Anda?

Enggak ada itu keberatan, jadi kan perhitungan suara mulai dari TPS, kecamatan, kabupaten, terus masuk ke provinsi. 

Kalaupun saya tidak menang, mungkin tidak ada protes seperti itu.

Dan kalaupun mungkin beliau masuk, mungkin juga tidak ada protes-protes berlebihan soal foto saya.

Saya juga bingung indikator apa yang menyatakan bahwa foto saya berlebihan, dari segi apa, teorinya apa, karena ini menurut saya subjektif sekali.

Yang merekomendasikan Anda untuk memasang foto tersebut di APK siapa? Apakah tim pemenangan atau anda sendiri?

Jadi begini, kan kita diminta oleh KPU untuk memberikan foto yang terbaik sebelum kertas suara itu diserahkan ke KPU pusat untuk dicetak surat suara.

Semua calon diberikan kesempatan untuk mengubahnya, sebelum DCT (Daftar Calon Tetap) itu ditetapkan dan surat suara dicetak.

Semua pun diberi kesempatan tanpa kecuali, dan tentunya kami juga mengambil kesempatan itu.

Akhirnya karena diminta untuk memberikan foto yang terbaik, keponakan-keponakan dan keluarga saya minta saya untuk foto di studio, lalu juga diminta ke salon.

Hasilnya kan ada beberapa jepretan begitu, saya sama kakak ditanya mana yang bagus, tapi semua hampir sama sih ya, begitu saja.

Anda mengatakan saat di MK bahwa harga diri Anda seperti diinjak-injak karena dituding demikian, itu bisa dijelaskan mengapa Anda merasakan hal tersebut?

Ya kan seorang wanita kalau terus-terus dihina, kan perasaannya ya bagaimana sih. Tapi, saya mengatakan ke diri saya, sudahlah, saya ambil hikmahnya saja.

Ini pembelajaran politik, dan saya berpikir positif bahwa apa pun yang terjadi pasti ada hikmahnya.

Bahkan foto presiden pun pasti diedit. Di seluruh dunia pasti pejabat dan pemimpin foto-fotonya diedit.

Tidak mungkin kan foto-fotonya tidak diedit, dalam artian ya diedit itu dirapikan sedemikian rupa. Misalnya, latar belakangnya dikasih bendera merah putih, kan istilahnya itu juga diedit.

Keluarga Anda sendiri bagaimana melihat soal ini, apakah suami Anda sakit hati saat Anda dituding demikian?

Mereka hanya senyum saja, hanya santai-santai saja. Dia tahu mamanya, tahu istrinya. Terus yg dituduhkan itu memang tidak benar. Apalagi ya sudahlah,  saya jalani saja. 

Adapun saya datang ke MK itu permintaan lawyer kami, dan juga kan ditanya bagaimana cara pembuktiannya.

Pertama tim lawyer mengatakan akan mendatangkan prinsipal kami, biar majelis hakim bisa lihat dan menilai sendiri. Yang selanjutmya berdasarkan dalil-dalil. Saya datang sebagai pihak terkait. 

Apa pun yang terjadi nanti di MK, saya akan menuruti apa yang disarankan oleh penasihat hukum saya.

Semoga ini tidak berlanjut. Saya berharap Yang Mulia Majelis Hakim di MK bisa memberikan kebijakan. Saya tahu beliau-beliau semua orang yang paham dan pakar hukum dan pasti memiliki hati nurani.

Anda mengatakan bahwa anda menghargai studio foto yang telah melakukan pekerjaannya, apa nama studio foto tersebut?

Namanya Blitz, lokasinya ada di Mataram, Lombok. Fotografernya bermana Dodi. Dia juga beberapa kali foto saya saat pesta atau lainnya.

Saya pikir memang tidak ada yang berlebihan, dan seorang fotografer pasti menginginkan hasil jepretannya bagus, misalnya mengambil sudut dan posisinya pasti harus bagus.

Foto saya juga banyak, ada berbagai macam posisi. Saya juga harus berganti busana.

Studio tersebut apakah biasa digunakan para politikus untuk sesi foto begitu?
Iya studio Blitz itu kebanyakan dipakai oleh orang-orang yang terjun di politik ya.

Harganya juga lumayan berarti ya? Berapa?

Tidak kok, harganya standar, kisaran 1 sampai 1,5 juta saya bayar ke sana. Tidak sampai yang puluhan juta. Silakan ke sana, di sana berkas foto-foto saya. 

Kalau untuk yang mencetak APK Anda sendiri, apakah di studio yang sama?

Oh tidak dong, kalau untuk cetak APK ada yang dari Semarang, Surabaya, Jakarta, banyak sumbangan sih. Saya menyerahkan file foto saya yang sudah didesain sedemikian rupa. Itu pun didesain oleh kawan-kawan saya.

Anda menang di NTB dengan perolehan 283 ribu suara, sementara pesaing Anda memperoleh sekitar 1.000 suara, apakah Anda menang hanya karena foto tersebut, atau karena Anda benar-benar turun kampanye ke masyarakat?

Begini, sekarang apakah bisa dibuktikan sebanyak 283 masyarakat NTB memilih saya hanya berdasarkan foto saya itu?

Saya ini orang politik, pernah di PAN NTB, bahkan kakak saya ikut mendirikan PAN dan kami membesarkan PAN di NTB. Saya juga pendiri Partai Hanura NTB dan saya termasuk sebagai Panitia Sembilan di dalamnya.

Selama satu tahun sebelum pencoblosan, saya turun dari desa ke desa, dari gunung ke gunung, dari Ampenan sampai ke Sape saya jalankan, tentu tidak semuanya saya bisa menjangkau semua daerah. 

Jadi, naif sekali kalau hanya karena sekadar foto saya dituding meraup suara masyarakat di NTB.

Ini sekarang sedang ramai di MK soal Anda ini, kalau tensi politik di tempat asal Anda apakah panas atau bagimana, terutama pendukung Anda?

Di Lombok itu sudah ramai setelah ada gugatan beliau keberatan itu. Beliau sempat mengajukan keberatan ke Bawaslu, tetapi karena sudah kedaluwarsa masa administrasinya, jadi mungkin itu saja.

Di sana ramai, hampir setiap hari media massa, media daring juga memberitakan soal ini. Sudah bisa diketahui ya, pendukung mana di sana yang lebih banyak dari hasil penghitungan suara. Banyak yg berkomentar di sana ke saya isinya positif semua, memberikan semangat kepada saya untuk sabar menjalani ini.

Anda mengenal Farouk Muhammad?

Saya tahu sosok beliau, tapi saya tidak begitu kenal beliau. Karena sama-sama orang politik ya wajarlah, beliau juga petahana dua periode, pasti tahu lah dan dikenal.

Apalagi dulu beliau pernah menjabat sebagai Kapolda NTB. Beliau punya nama besar juga di sana.

Apa Anda pernah ada komunikasi dengan Farouk Muhammad?

Sampai saat ini, belum. Tetapi, kalau dengan teman-teman (calon anggota DPD) di NTB yang lain saya sering komunikasi karena ada grupnya, na manya Calon DPD RI.

Calonnya ada 27 orang, termasuk saya dan Pak Farouk. Jadi, setiap provinsi hanya empat orang calon yang diambil dan menjadi wakil ke pusat (DPD RI).

Anda mengatakan Farouk menggugat karena tidak siap kalah, seyakin apa Anda mengatakan hal tersebut?

Saya jawabnya, ya kenapa setelah dinyatakan menang, kok saya digugat? Berdasarkan komentar teman-teman saya, ya beliau enggak siap kalah. Seharusnya dalam berkompetisi, ya pasti siap menang dan siap kalah.

Atau jangan-jangan Farouk menggugat ke MK dan minta ditetapkan sebagai anggota DPD RI terpilih karena telah keluar modal besar?

Saya no comment kalau soal itu, ha ha ha. Tapi begini, intinya saya sebetulnya sangat respect ke beliau sebagai putra terbaik NTB. Saya ingin belajar banyak dari beliau. Ya mungkin suatu saat saya bisa silaturahmi ke beliau dan bisa belajar banyak.

Saya sedikit pun tidak merasa ada permusuhan dengan Pak Farouk.

Saya sampai saat ini tetap menghargai beliau sebagai orangtua dalam hal berpolitik. Kalau berkenan, nanti pasti saya akan minta nasihat-nasihat ke beliau, bagaimana ke depannya untuk memajukan Provinsi NTB dan masyarakatnya.

Dan saya percaya bahwa Yang Mulia Majelis Hakim yang ada di MK punya ilmu tinggi dan hati nurani yang tulus untuk memandang kasus ini. Saya Insyaallah siap menerima apa pun keputusan majelis hakim MK. (Reza Deni/ Tribunnews)

Sumber: https://www.tribunnews.com/nasional/2019/07/20/blak-blakan-caleg-evi-apita-yang-diprotes-karena-fotonya-kelewat-cantik-foto-presiden-aja-diedit

Editor: Agung Budi Santoso
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved