Erupsi Gunung Tangkuban Parahu

Tangkuban Parahu Meletus, Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbing Jadi Viral, Ahli Vulkanologi Bicara

Tangkuban Parahu Meletus, Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbing Jadi Viral, Ahli Vulkanologi Bicara

Tangkuban Parahu Meletus, Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbing Jadi Viral, Ahli Vulkanologi Bicara
Lakshmi Sharath
Gunung Tangkuban Parahu, antara mitos dan fakta 

Sangkuriang terus berlari, setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung Berung, ia menghilang ke alam gaib

Perahu yang ditendang hingga terbang melayang itu terjatuh terbalik dimitoskan menjadi Gunung Tangkuban Parahu.

Bachtiar mengatakan bahwa legenda itu diciptakan oleh orang selatan karena hanya dari wilayah selatan (lembang), Gunung Tangkuban Parahu terlihat seperti perahu yang terbalik.

“Jadi yang menciptakan legenda itu (Tangkuban Parahu), ya, pasti orang selatan,” pungkasnya.

Catatan dari ahli...

Kepulan asap keluar dari Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (23/7/2019). Berdasarkan hasil rekaman seismograf pos pengamatan PVMBG Tangkuban Parahu mencatat, pada 21 Juli 2019 terpantau terjadi 425 kali gempa hembusan Gunung Tangkuban Parahu serta kegempaan tremor harmonik berjumlah dua kali dengan amplitudo 1.5-2 mm serta durasi 44-45 detik. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/pd.
Kepulan asap keluar dari Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (23/7/2019). Berdasarkan hasil rekaman seismograf pos pengamatan PVMBG Tangkuban Parahu mencatat, pada 21 Juli 2019 terpantau terjadi 425 kali gempa hembusan Gunung Tangkuban Parahu serta kegempaan tremor harmonik berjumlah dua kali dengan amplitudo 1.5-2 mm serta durasi 44-45 detik. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/pd.(ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)

Gunung Tangkuban Parahu erupsi pada Jumat (26/07/2019). Letusan gunung yang terletak di Jawa Barat itu terjadi pukul 15.48 WIB.

Dikutip dari Kompas.com, Jumat (26/7/2019), erupsi Jumat sore itu seolah terjadi tiba-tiba sehingga mengagetkan masyarakat. Meski begitu ahli vulkanologi Surono mencatat sejumlah hal lain.

"Alam itu setiap akan ada kejadian, ada tanda-tandanya," ungkap Surono melalui sambungan telepon.

"Banyak hal tanda-tanda alam yang dapat diamati, termasuk juga kalau akan ada letusan gunung api. Masyarakat bilang hewan akan turun dari puncak, kan itu semua tanda-tanda," imbuhnya.

Menurutnya, tanda-tanda inilah yang membuat gunung api dipantau.

Badan yang bertanggung jawab atas gunung api akan memantau dan mengamati bagaimana perilaku gunung agar bisa menentukan aktivitas yang terjadi.

"Terakhir saya tangani 2013. Itu nggak normal juga," ujar Surono.

"Walaupun, saya sering tidak akur dengan pengelola wisata di situ. Tapi bagi saya tidak masalah, (karena) lebih baik kita sedia payung saat langit terlihat mendung," tambahnya menganalogikan keadaan Tangkuban Parahu.

Baginya, tanda-tanda letusan gunung itu seperti awan yang terlihat mendung.

Dia mengingatkan agar masyarakat untuk selalu menyiapkan mitigasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Bukan perkara letusannya yang dikhawatirkan Surono akan membahayakan para wisatawan, melainkan kepanikan orang saat erupsi itu sendiri.

"Andai ada letusan lalu terjadi kepanikan, orang bisa celaka bukan karena letusan gunung apinya tapi karena kepanikan itu sendiri," ujar Surono.

"Sekarang orang lari tidak pakai kaki lagi, tapi mesin. Entah itu motor, mobil, dan sebagainya," tambahnya.

Kepanikan dapat meicu orang ingin segera turun menggunakan moda tercepat.

Ketika itu terjadi, hal paling buruk adalah masalah kecelakaan. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran Surono terhadap erupsi mendadak Tangkuban Parahu.

"Sekarang yang bisa dipertanyakan, berapa jumlah pengelola wisata dan berapa jumlah pengunjung yang diperbolehkan," kata Surono.

"Jadi, ini rasio jumlah pengunjung atau wisatawan yang harus diperhitungkan dengan letusan yang tiba-tiba seperti hari ini," tegasnya.

Sementara itu PT Graha Rani Putra Persada selaku pengelola Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu akan tetap membuka kunjungan untuk wisatawan di akhir pekan besok meski gunung tersebut meletus.

“Besok dilihat kalau situasi normal kita buka,” kata Putra Kaban, direktur Utama PT GRPP saat dihubungi Kompas.com, Jumat (26/7/2019).

Lebih lanjut Putra Kaban menegaskan, tidak ada satu pun instansi yang bisa melarang pihaknya membuka loket kunjungan untuk wisatawan mancanegara maupun lokal.

“Enggak ada cerita, yang menentukan saya. Kalau normal ya, kita buka,” tuturnya.

Putra Kaban menjelaskan, sejak tahun 2012 lalu pihaknya dan PVMBG telah membuat kesepakatan. Salah satu kesepakatannya adalah PT Graha Rani Putra Persada hanya mengikuti rekomendasi PVMBG.

Sementara PT GRPP tetap memiliki kuasa untuk membuka atau menutup kunjungan Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu.

“Mereka (PVMBG) hanya merekomendasikan, yang penting pengunjung tidak ke Kawah Ratu dan Kawah Upas karena selama ini memang tidak pernah diperbolehkan ke sana,” tuturnya.

Kalau pun loket kunjungan dibuka, lanjutnya, wisatawan masih bisa menikmati pesona alam TWA Tangkuban Parahu tanpa harus ke kawah utama.

“Di Jayagiri juga masih bisa, aman, di sana banyak hiburannya. Tapi kita lihat besok,” tandasnya.

Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu dalam rilisnya mencatat Gunung Api Tangkuban Parahu yang terbentuk dari letusan Gunung Sunda, memulai letusan pertamanya pada tahun 1829.

Sementara pada tahun 1846 terjadi terupsi peningkatan kegiatan kawah dan tahun 1896 terbentuk fumarol baru di sebelah utara Kawah Badak.

Erupsi beberapa kali terjadi di Gunung Tankuban Parahu dan tercatat pada tahun 1983 awan abu membumbung setinggi 159 meter di atas Kawah ratu. Erupsi juga smepat terjadi pada tahun 2013 lalu.

Terakhir, PVMBG mencatat erupsi Gunung Tangkuban Parahu terjadi pada Jumat (26/7/2019) pukul 15.48 WIB. SUMBER : KOMPAS.com ( Putra Prima Perdana, Resa Eka Ayu Sartika)

Sumber: https://regional.kompas.com/read/2019/07/27/10015691/tangkuban-parahu-legenda-sangkuriang-dan-dayang-sumbi-di-gunung-purba?page=all 

Editor: Agung Budi Santoso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved