Breaking News:

Korban Kerusuhan Wamena Tambah Jadi 30 Orang, Gubernur Papua Minta Kedaulatan Papua Tak Lagi Diusik

Korban kerusuhan Wamena, Papua, bertambah jadi 30 orang, ini tanggapan Gubernur Papua Lukas Enembe.

Kompas.com/AFP/VINA RUMBEWAS
Kondisi saat sebuah bangunan terbakar menyusul aksi berujung ricuh di Wamena, Papua, Senin (23/9/2019). Demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, dan beberapa kios masyarakat pada aksi berujung ricuh yang diduga dipicu kabar hoaks tentang seorang guru yang mengeluarkan kata-kara rasis di sekolah. 

Kontributor Kompas.com di Wamena, John Roy Purba, melaporkan, demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat.

Akibat kejadian itu 21 warga tewas, saat ini proses evakuasi terhadap bangunan yang dirusak dan dibakar tengah berjalan dan 1.500 warga mengungsi ke markas Kodim 1702 Jayawijaya.

Kapolda Papua Irjen Rudolf Rodja mengatakan, pihaknya sudah menelusuri dugaan ujaran rasial itu dan kenyataannya tidak ada.

Sementara itu, Dandim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Chandra Diyanto mengungkapkan, demo anarkis yang dilakukan pelajar SMA di Kabupaten Jayawijaya, disusupi Kelompok Komite Nasional Papua Barat ( KNPB).

Pasca- kerusuhan yang terjadi, situasi di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin malam sudah mulai kondusif.

Namun, untuk mengantisipasi adanya aksi susulan, aparat gabungan TNI-Polri terus bersiaga.

Berikut fakta selengkapnya:

1. Kronologi kerusuhan

Ilustrasi unjuk rasa di Papua. 
Ilustrasi unjuk rasa di Papua.  (dok BBC Indonesia)

Dandim 1702/Jayawijaya, Letkol Inf Chandra Diyanto mengungkapkan, demo yang dilakukan para pelajar SMA ini bermula adanya informasi yang viral di tengah-tengah masyarakat tentang dugaan ujaran rasisme diduga dilakukan seorang guru. Akan tetapi, setelah dilakukan pengecekan hal itu tak benar terjadi.

Dikatakan Chandra, sebenarnya kemarin (Senin) sama sekali tidak ada rencana aksi unjuk rasa di Kota Wamena. Untuk unjuk rasa sendiri direncanakan akan berlangsung tanggal 26-27 September 2019.

Candra menjelaskan, aksi anarkis bermula ketika para pelajar dari sekolah PGRI mengajak para pelajar SMA Yapis untuk ikut turun ke jalan namun tak diindahkan, sehingga mereka merusak sekolah Yapis.

Halaman
1234
Editor: Salma Fenty Irlanda
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved