Viral Hari Ini

4 Fakta Balita Sakit Demam Meninggal setelah Minum Obat dari Klinik, Kulit Melepuh hingga Mengelupas

Kulit Muhamad Noval Muhtarom (4) melepuh setelah meminum obat pemberian salah satu klinik di desa hingga membuatnya meninggal dunia.

TribunMataram Kolase/ (KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWI)
Kelurga korban mengangkat jenazah Muhammad Noval Muhtarom, balita dari Desa Nglambangan, Kecamatan Wungu dilaporkan tewas dengan kondisi sekujur tubuh melepuh setelah berobat di salah satu klinik tak jauh dari rumahnya. 

Novi sendiri mengaku kini tak lagi merasakan pusing, mual, dan muntah setelah minum obat dari RS BUN.

Namun dirinya masih merasa sakit di bagian perut.

"Masih melilit sakitnya, masih ngerasain gitu, kayak orang mules," ujar Novi.

2. Kronologi Awal

Hal ini terjadi karena ia mendapatkan obat kedaluwarsa dari Puskesmas Kelurahan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Selasa pekan lalu, Novi mendapatkan tiga strip obat kedaluwarsa saat kontrol kandungannya.

Ibu hamil ini belum sadar jika mengonsumsi dua butir vitamin B6 kedaluwarsa dari Puskesmas Kamal Muara.

Namun ia akhirnya ia tahu dari rasa penasarannya dengan garis biru yang ada pada obat tersebut.

Ternyata di bawah tinta biru ini tertulis obat yang dikonsumsinya sudah kedaluwarsa sejak April 2019.

 Glenn Fredly Menikahi Penyanyi Cantik Mutia Ayu, Resepsi Digelar Tertutup Penjagaan Ketat!

Seingatnya pada bulan lalu ia juga mengonsumsi sebanyak 36 butir obat yang ditandai garis biru.

Namun bungkus obat tersebut sudah ia buang sehingga ia tidak dapat membuktikan apakah obat itu juga kedaluwarsa atau tidak.

Namun pihak Puskesmas Penjaringan telah mengakui memberikan obat kedaluwarsa pada Novi.

Kasus itu sudah dilaporkan Novi ke Polsek Metro Penjaringan terkait dugaan pelanggaran Pasal 8 Undangan-Undang RI Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

3. Hasil Mediasi

Mediasi antara Puskesmas Kelurahan Kamal Muara dengan Korban obat kedaluwarsa yang berlangsung di Kantor Lurah Kamal Muara.
Mediasi antara Puskesmas Kelurahan Kamal Muara dengan Korban obat kedaluwarsa yang berlangsung di Kantor Lurah Kamal Muara. (KOMPAS.COM/JIMMY RAMADHAN AZHARI)

Isi dari mediasi yang berhasil mereka lakukan ada 2 isi kesepakatan antara Novi dan pihak puskesmas.

1. Pihak pertama (Puskesmas Kelurahan Kamal Muara) akan menemani (antar jemput) pihak kedua (korban) untuk dilakukan pemeriksaan rutin kandungan ke dokter spesialis kandungan di Rumah Sakit Umum Daerag Cengkareng setiap bulannya sampai dengan proses persalinan dan tanpa biaya apapun.

2. Pihak pertama memfasilitasi proses pembuatan BPJS kesehatan pihak kedua.

Kesepakatan ini sudah ditandatangani dari dua belah pihak.

Pihak Novi ada tiga kuasa hukum yang menandatangai kasus ini, yaitu Pius Situmorang, Roberto Manuring dan Edi Sabara.

Sedangkan Dr. Agus Ariyanto Haryoso, Kepala Puskesmas Kecamatan Penjaringan mewakili puskesmas tempatnya bekerja.

4. Puskesmas Bungkam

Beberapa PNS yang jadi saksi dan menghadiri mediasi ini juga langsung meninggalkan tempat tanpa berkomentar apapun.

Termasuk kepala Puskesmas Kecamatan Penjaringan, Agus juga tak mau berkomentar.

"Nanti Dinas (Kesehatan) yang akan menyampaikan," ujarnya sambil meninggalkan lokasi.

5. Kasus Tetap Berjalan

Pius Situmorang, kuasa hukum Novi menandatangani kesepakatan dengan pihak Puskesmas Kemal Muara pada Senin (19/8/2019).

Meski sudah mendapai kata sepakat melalui mediasi yang mereka lakukan, Novi tetap memproses secara hukum.

"Sampai hari ini tetap proses hukum (berlanjut), inginnya mereka mencabut, tapi konteksnya tindak pidana umum, jadi tidak bisa dicabut," kata Pius di Puskesmas Kamal Muara, Senin (19/8/2019).

 Curahan Hati Goo Hye Sun, Didepak Agensi Sendiri Setelah Kabar Cerai dengan Ahn Jae Hyun Terbongkar

"Kita melihat unsur tindak pidana, sudah ada dua alat bukti," ujarnya.

Dua alat bukti yang dimaksud adalah sisa obat kedaluwarsa yang diberikan oleh Puskesmas Kamal Muara yang saat ini sudah disita kepolisan.

Pemberitaan di berbagai media terkait pengakuan dari Puskesmas memberikan obat kedaluwarsa tersebut jadi bukti kedua.

6. Suaminya Kehilangan Pekerjaan

Suami korban yang diberi obat kedaluwarsa oleh Puskesmas Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.
Suami korban yang diberi obat kedaluwarsa oleh Puskesmas Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. (KOMPAS.com/JIMMY RAMADHAN AZHARI)

Tak hanya Novi yang mengalami hal kurang menyenangkan.

Suaminya, Bayu Randi Dwitara juga ikut menelan pil pahit.

Ia dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja karena sibuk mengurus istrinya yang hamil dan sedang sakit.

Novi tengah hamil 15 minggu namun alami pusing, mual, perut melilit, hingga muntah-muntah.

Hal ini karena ia mengonsumsi vitamin B6 yang sudah kedaluarsa.

Bayu yang belum lama bekerja sebagai operator di sebuah pabrik plastik di Kamal Muara harus berulang kali meninggalkan pekerjaan saat sang istri mengeluh kesakitan.

Terus bekerja tidak optimal, Bayu dipecat karena dianggap bisa merugikan perusahaan.

Bayu pun mencoba memahami hal tersebut. "Ya karena ngurusin ini saya dipecat.

Jadi sudah enggak kerja lagi. Di rumah saja ngurusin istri," ujar Bayu saat ditemui, Senin (19/8/2019).

Kini ia tak memiliki penghasilan sama sekali, Bayu dan Novi hanya mengandalkan pendapatan orang tua mereka.

"Sekarang dari orangtua aja. Alhamdulillah dari orangtua ada buat makan sehari-hari," ucap Bayu.

Meski harus mengirit, ia tetap mengusahakan untuk memberi istri makanan bergizi dengan memberi buah-buahan.

(TribunMataram.com/Asytari Fauziah)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved