Breaking News:

Viral Hari Ini

Duduk Perkara Sejumlah Siswi SMP Dicabuli Pembina Pramuka saat Kemah, Kini Korban Trauma

Sejumlah siswi SMP di Gunungkidul, Yogyakarta menjadi korban pencabulan yang dilakukan oleh oknum pembina pramuka di sekolah mereka.

Editor: Salma Fenty Irlanda
Tribunnews
Ilustrasi 

TRIBUNMATARAM.COM - Duduk perkara pembina pramuka cabuli beberapa siswi SMP saat berkemah, korban trauma.

Sejumlah siswi SMP di Gunungkidul, Yogyakarta menjadi korban pencabulan yang dilakukan oleh oknum pembina pramuka di sekolah mereka.

Korban yang mengalami trauma pun melaporkan perbuatan bejat pembina pramuka tersebut kepada orangtua mereka.

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga ( Disdikpora) Gunungkidul, Yogyakarta, menindaklanjuti dugaan pencabulan di salah satu sekolah di Kecamatan Gedangsari.

Disdikpora menyediakan konseling jika diperlukan para siswa karena trauma kasus pencabulan.

Lebih Sadis dari Reynhard Sinaga, Kasus Robot Gedek Korban Dicabuli & Dibunuh, Ada Tanda di Perut

“Hari ini saya datang ke sini (sekolah) memastikan memang benar terjadi seperti itu,” kata Kepala Disdikpora Gunungkidul Bahron Rasyid saat ditemui di Gedangsari Jumat (10/1/2020). 

Ilustrasi
Ilustrasi (Tribunnews)

Bahron mengaku sempat bertemu dengan 4 orang siswi, dan mereka mengaku diciumi oleh ED pendamping Pramuka pada medio Desember 2019.

Pihaknya memastikan kondisi sudah membaik dan tenang, meski diakuinya ada trauma akibat peristiwa itu.   

“Saya dorong anak-anak tetap belajar dengan baik. Anak anak kami memang trauma terhadap perilaku Pak ED, tetapi di sekolah mereka merasa aman,” katanya. 

“Saya berikan jaminan Pak ED tak akan lagi membina Pramuka di SMP ini,” ucapnya. 

POPULER Fakta Lengkap Sopir Taksi Online yang Cabuli Penumpangnya Hingga Hamil, Tega Peras Korban!

Pihak Disdikpora akan terus memantau perkembangan psikologis anak. Jika ada keluhan diharapkan untuk melaporkan ke sekolah dan akan ditindaklanjuti.

“Selama ada ketidaknyamanan lapor ke bapak ibu guru, nantinya akan lapor ke kami, akan kami tangani,” katanya. 

Bahron mengatakan, pihaknya dan sekolah akan melakukan pengawasan terhadap pembina pramuka.

“Kita harus lindungi anak-anak dari berbagai macam ketidaknyamanan,” ucapnya. 

Sebelumnya, Kapolsek Gedangsari, AKP Solechan mengatakan, ada 7 orang saksi dan korban.

Dari pengakuan awal, diketahui perbuatan dugaan pencabulan para siswi SMP N di Gedangsari.

Perbuatan bejat guru pendamping Pramuka itu dilakukan medio Agustus 2019, dan Desember 2019 lalu.

"Dengan bujuk rayu, beberapa siswi dilakukan ciuman dan lainnya," ucapnya.

Perbuatan tersebut dilakukan di sekolah, dan bumi perkemahan di wilayah Sleman. Menurut dia, karena perbuatan itu, para siswi mengalami trauma.

"Orangtua murid melaporkan ke sini diarahkan ke Polres," ucapnya. (Kompas.com/ Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sejumlah Siswi SMP Dicabuli Pembina Pramuka di Gunungkidul, Disdikpora Lakukan Pendampingan", https://regional.kompas.com/read/2020/01/10/14003901/sejumlah-siswi-smp-dicabuli-pembina-pramuka-di-gunungkidul-disdikpora?page=all#page2.

Ilustrasi pencabulan oleh guru
Ilustrasi pencabulan oleh guru (KOMPAS.com/LAKSONO HARI WIWOHO)

Kronologi Guru Honorer Cabuli Siswi SMP saat Olimpiade Sains, Korban Berteriak Lari dari Kamar Hotel

TRIBUNMATARAM.COM - Kronologi lengkap guru honorer cabuli siswi SMP saat dampingi korban mengikuti Olimpiade Sains.

Seorang oknum guru honorer di SMP Negeri di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, diamankan polisi setelah mencabuli murid SMP yang didampinginya untuk Olimpiade Sains.

WD (13) melaporkan perbuatan bejat guru pendampingnya saat mengikuti Olimpiade Sains.

LM (32), oknum guru honorer Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, ditangkap polisi pada Selasa (10/12/2019), diduga mencabuli siswinya berinisial WD (13).

LM ditangkap setelah polisi menerima laporan dari kakak korban yang masuk ke Polres Pesisir Selatan.

 Dampingi Muridnya Olimpiade Sains, Guru SMP Malah Cabuli Siswanya di Kamar Hotel!

Kasat Reskrim Polres Pesisir Selatan, AKP Allan Budi Kusuma mengatakan, setelah menerima laporan dari keluarga korban, pihaknya langsung bergerak dan menangkap pelaku.

Untuk statusnya sendiri, sambung Allan, LM sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesisir Selatan, Suhendri mengatakan, LM yang saat ini ditetapkan menjadi tersangka kasus pencabulan terhadap siswinya hanyalah seorang guru honorer.

Kendati hanya guru honorer, namun Suhendri mengaku kejadian itu telah mencoreng dunia pendidikan di Pesisir Selatan.

Berikut ini fakta selengkapnya:

 Warga Curiga Lihat Cara Berjalan Korban Aneh, Kasus Ayah Cabuli Bocah 9 Tahun Sejak 2017 Terbongkar!

1. Kronologi kejadian

Ilustrasi garis polisi.
Ilustrasi garis polisi.(THINKSTOCK)

Allan mengatakan, pencabulan berawal saat korban mengikuti Olimpiade Sains yang diadakan Dinas Pendidikan Pesisir Selatan pada Sabtu (7/12/2019) di Painan.

Karena lokasi sekolah yang berada di Kecamatan Sutera dan cukup jauh dari Painan, WD harus berangkat pada Jumat (6/12/2019).

Saat itu korban berangkat bersama LM dari Sutera ke Painan. Sebelum tiba di Painan, korban diajak singgah di objek wisata Pantai Sri Dano, Kecamatan Batang Kapas.

Selain dibawa jalan-jalan ke pantai, korban juga dibelikan jam tangan oleh tersangka di pasar. Kemudian, tersangka mengajak korban menginap di hotel.

"Nah, saat di hotel sekitar pukul 21.00 WIB, tersangka mendatangi kamar korban dan kemudian melakukan tindakan pencabulan," katanya yang dihubungi Kompas.com, Kamis (12/12/2019).

Korban menjerit dan kemudian lari dari hotel, selanjutnya korban menelpon kakaknya.

2. Ditetapkan tersangka

Ilustrasi tersangka ditahan.
Ilustrasi tersangka ditahan.(SHUTTERSTOCK)

Allan mengatakan, setelah pihaknya mendapat laporan dari keluarga korban, pelaku kemudian berhasil ditangkap.

"Kami sudah menetapkan LM sebagai tersangka dan sekarang ditahan di Mapolres Pesisir Selatan," katanya.

"Tersangka dijerat dengan UU Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 5 miliar," sambungnya.

3. Korban trauma dan takut masuk sekolah

Ilustrasi trauma
Ilustrasi trauma(ake1150sb)

Pasca-kejadian tersebut, sambung Allan, WD mengalami trauma dan tidak berani datang ke sekolah untuk belajar.

"Dia mengalami trauma. Informasi terakhir dia juga tidak masuk sekolah. Mungkin karena takut," katanya.

Ditambahkan Allan, kendati masih mengalami trauma dan tidak masuk sekolah, WD masih tercatat sebagai siswa di SMP itu.

"Masih sekolah di SMP itu, cuma belum masuk sekolah saja," katanya.

 4. Guru SMP pendamping Olimpiade berstatus honorer

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesisir Selatan, Suhendri mengatakan, oknum guru SMP negeri di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, LM (32) yang saat ini ditetapkan menjadi tersangka kasus pencabulan terhadap siswinya hanyalah seorang guru honorer.

"Yang bersangkutan hanyalah guru honorer. Kalau dia guru PNS, kita ambil tindakan. Saat ini, kita menunggu perkembangan kasusnya di kepolisian," katanya yang dihubungi Kompas.com, Kamis.

Meskipun guru honorer, namun Suhendri mengaku kejadian itu telah mencoreng dunia pendidikan di Pesisir Selatan.

"Kita akan minta sekolah memperketat pengawasan. Kalau muridnya yang bertanding perempuan maka guru yang mendampingi perempuan pula. Jangan sampai terulang kembali kejadian memalukan itu," katanya.

Sumber: KOMPAS.com (Penulis : Kontributor Padang, Perdana Putra | Editor: Khairina, Teuku Muhammad Valdy Arief)

Sumber : https://regional.kompas.com/read/2019/12/13/05280041/4-fakta-oknum-guru-pendamping-olimpiade-sains-cabuli-siswinya-dilakukan-di?page=all#page2

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved