Breaking News:

Puluhan Penumpang Terlantar di Pelabuhan NTB, Tak Bisa Mudik karena Kapal Dilarang Berlayar ke NTT

Sudah berhari-hari puluhan warga NTT yang hendak pulang kampung masih tertahan di Pelabuhan Sape, NTB.

Ilustrasi mudik lebaran 2020
Warta Kota/Henry Lopulala 

Dalam foto yang diunggah oleh akun @saeval, terlihat sejumlah penumpang yang duduk di bagasi bus bersama barang-barang.

Disebutkan oleh akun itu, bahwa gambar itu diabadikan di Ciledug.

"Gambar ini diambil oleh sepupu saya di terminal bus Ciledug siang ini.

Mereka adalah pendatang yang putus asa untuk tetap mudik walaupun telah dilarang oleh pemerintah.

Demi menghindari penggerebekan selama PSBB, mereka memilih duduk di bagasi bus dengan membayar Rp 450 ribu," jelas akun tersebut.

Potret pemudik nekat duduk di bagasi.
Potret pemudik nekat duduk di bagasi. (Twitter)

Padahal, duduk di bagasi bus bisa membawa dampak buruk bagi penumpang.

Dikutip TribunMataram.com dari Kompas.com, Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menjelaskan bila tindakan seperti itu memang bisa saja terjadi dalam kondisi yang sudah sangat terdesak.

Namun harus diperhatikan bahayanya bila memaksakan diri menjadi penumpang di dalam bagasi.

"Harus dipikirkan dari sisi kesehatan yang berujung pada dampaknya.

Kita mengerti memang kondisinya ini sangat kacau, tapi di satu sisi kita harus pahami bila ruang bagasi itu bukan peruntukannya untuk manusia, tapi barang," ujar Jusri, Minggu (26/4/2020).

Jusri menjelaskan ada bahaya tersembunyi yang bisa saja dialami seseorang ketika memaksakan diri berada di dalam bagasi dalam waktu yang lama. Hal ini harus disadari betul karena dampaknya bisa fatal, bahkan sampai nyawa taruhannya.

Selain karena minim udara yang bisa membuat orang kehabisan oksigen, ruang bagasi pada bus AKAP yang berada di bawah, umumnya juga sangat mudah dimasuki udara tak sehat yang berasal dari emisi gas buang atau CO2.

"Kita saja kalau duduk biasa di dalam kabin masih suka mencium bau yang tak nyaman dari gas emisi gas buang, apalagi yang di dalam bagasi dan dalam kondisi mesin hidup dan berjalan. Akan lebih mudah dan pasti sangat pengap," ucap Jusri.

"Meski di dalam bagasi ada beberapa ruang udara atau sirkulasi, tapi itu tidak menjamin lancar.

Dampak fatal orang bisa saja yang kekurangan oksigen atau dikenal hipoksia yang membuat badan tak bisa menjalankan fungsinya dengan baik," kata dia. (TribunMataram.com/ Salma Fenty)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Kami Hanya Ingin Pulang ke Kampung Halaman, Bukan Mau Bawa Penyakit""

BACA JUGA: Tribunnews.com dengan judul Terlantar di Pelabuhan NTB, Pemudik Asal NTT: Kami Hanya Ingin Pulang, Bukan Membawa Virus

Editor: Asytari Fauziah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved