Breaking News:

Nelangsa Nelayan Benur di Lombok NTB, Edhy Prabowo Ditangkap, Benih Lobster Tetap Dibeli Murah

Kehidupan mereka tetap tak tentu dengan harga benur yang dibeli murah oleh tengkulak meski sangat sulit mendapatkannya.

KOMPAS.COM/IDHAM KHALID
Nelayan benur di Lombok 

Perusahaan

Sementara itu, Kepala Cabang PT Royal Samudra Nusantara, Lombok, Ahmad Tantowi, salah satu perusahaan eksportir benur, mengakui ada penundaan pengiriman benur setelah Edhy Prabowo ditangkap.

“Kalau kita lihat dari perkembangan memang sudah keluar surat edaran, untuk ekspornya dulu distop. Untuk hari terakhir, hari kemarin (Jumat), di surat edaran sudah jelas, kalau yang masih menyimpan di housekeeping-nya diharuskan dikirim besoknya,” kata Tantowi.

Tantowi mengakui, selama penerapan Permen KP Nomor 12/2020, dia mengalami kendala terhadap proses perizinan yang panjang.

“Ini terlalu panjang alurnya, dari tingkat desa, kemudian kabupaten, kemudian naik ke atas lagi ke KKP. Pokoknya panjang,” kata Tantowi.

Perusahaan Tantowi bermitra dengan lebih dari 100 nelayan lobster yang difasilitasi alat tangkap.

Tantowi mengakui, kadang jarak harga di petani dengan perusahaan sangat jauh tinggi lantaran adanya dugaan permainan harga oleh para tengkulak.

“Jarak harga itu biasanya karena pengepul, pengepul ini sudah punya nelayan binaan. Di luar dari perusahaan, rata-rata nelayan itu sudah dimodali oleh pengepul, yang kemudian itu dianggap sebagai utang nelayan,” kata Tantowi.

Dia menyebutkan, tidak pernah membeli benih lobster di bawah harga batas yang sudah ditentukan pemerintah.

Dalam sekali pengiriman ke luar negeri, perusahaan Tantowi bisa membawa hingga ratusan ribu benur. (Kompas.com/ Kontributor Lombok Tengah, Idham Khalid)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita Nelayan Benur di Lombok yang Hidupnya Tak Tentu karena Tengkulak"

BACA JUGA Tribunnewsmaker.com dengan judul Nelangsa Nelayan Benur di Lombok NTB, Meski Menteri KKP Ditangkap, Benih Lobster Tetap Dibeli Murah

Editor: Salma Fenty Irlanda
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved