Breaking News:

Mengapa Ikan Cupang Berubah Warna? Waspada Bisa Jadi Tanda-tanda Stres & Penyakit

Kepopulerannya dikarenakan warna mereka yang cerah menyala sehingga menjadi salah satu daya tariknya.

KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWI
Ilustrasi ikan cupang 

TRIBUNMATARAM.COM - Setelah demam tanaman hias, kini ikan hias juga jadi primadona.

Salah satu yang saat ini banyak digemari adalah ikan cupang.

Ikan cupang kini menjadi primadona di kalangan pecinta ikan hias.

Baca juga: POPULER Awalnya Iseng Koleksi Ikan Cupang di Tengah Pandemi Covid-19, Pria Ini Raih Omzet Rp 40 Juta

Baca juga: Awalnya Hanya Iseng Koleksi Ikan Cupang, Pria Ini Raih Omzet Rp 40 Juta di Tengah Pandemi Covid-19

Kepopulerannya dikarenakan warna mereka yang cerah menyala sehingga menjadi salah satu daya tariknya.

Ikan cupang jantan biasanya memiliki warna yang lebih cerah daripada ikan cupang betina yang memiliki warna lebih lembut.

Dilansir dari Pets, Senin (28/12/2020), ikan cupang terkadang bisa berubah warna, atau lebih pudar. Perubahan atau kepudaran warna ini disebabkan berbagai alasan.

1. Stres

Alasan paling umum ikan cupang kehilangan warnanya adalah stres.

Toko hewan peliharaan seringkali menyimpannya dalam wadah kecil, dan mengemas ikan secara berdampingan di rak-rak kecil.

Ikan dalam wadah kecil ini akan tampak kusam dan kalem, dengan warna pucat.

Pemilihan akuarium yang dapat menampung setidaknya 1 galon air untuk mencegah penumpukan amonia berlebih pada ikan, bisa menjadi pencegahan pemudaran warna ikan cupang.

Selain itu, ikan cupang adalah spesies tropis, dan akuarium Anda harus memiliki pemanas kecil untuk menjaga suhu di antara 21 derajat celsius. Simpan cupang jantan di tangki terpisah untuk mencegah perkelahian.

2. Penyakit

Indikator penyakit yang terlihat pada ikan cupang adalah perubahan warna.

Infeksi jamur atau bakteri sering kali meninggalkan bercak yang tampak kabur atau berubah warna di sepanjang sisik ikan.

Penggantian air total bersama dengan perawatan jamur rutin dapat menghilangkan infeksi.

Ich adalah penyakit umum lainnya yakni dengan ditandai muncul bintik-bintik putih di sepanjang sisik dan sirip. Ich bisa berakibat fatal jika tidak diobati, tetapi peningkatan suhu air yang dikombinasikan dengan obat ich akan menghilangkan infeksi.

Penyakit juga menyebabkan perubahan warna dan bisa berakibat fatal jika tidak ditangani. Beludru melapisi insang dan sisik dengan lapisan tipis berwarna kuning atau cokelat.

Rawat beludru dengan garam akuarium dan produk perawatan air, dan lakukan segera setelah mendeteksi gejala untuk menyelamatkan ikan.

Ilustrasi ikan <a href='https://mataram.tribunnews.com/tag/cupang' title='cupang'>cupang</a>, ikan <a href='https://mataram.tribunnews.com/tag/cupang' title='cupang'>cupang</a> halfmoon.

Ilustrasi ikan cupang, ikan cupang halfmoon. (SHUTTERSTOCK/PANPILAI PAIPA)

3. Usia

Sama seperti uban pada mamalia, cupang sering kehilangan sebagian warna cerahnya seiring bertambahnya usia. Umur rata-rata ikan cupang adalah antara dua sampai lima tahun, meskipun dengan perawatan yang tepat ikan yang sehat dapat hidup lebih lama.

Saat ikan cupang lahir, tubuh mereka berwarna bening bahkan hampir seperti tembus cahaya. Warnanya biasanya meningkat sampai ikan berumur kurang lebih 2 tahun.

Setelah itu, ikan akan mulai memudar menjadi warna yang lebih kusam, terutama di sekitar mulut dan insang.

Bisnis Cupang Beromzet Jutaan

Arnovian Pratikna (24) tak menyangka keisengannya mengoleksi aneka jenis ikan cupang di masa pandemi berubah menjadi keberuntungan.

Pemuda yang tinggal di Jalan Maskumambang 10B, Kelurahan Sogaten, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jatim Ini sukses meraup omzet hingga Rp 40 juta setiap bulannya.

Arnov yang ditemui Kompas.com, Rabu (23/9/2020) menceritakan awal mula tertarik hingga akhirnya berbisnis ikan berukuran kecil tersebut.

 Saat Pandemi Covid-19 Iseng Kembangkan Hidroponik, Pemuda Ini Malah Raih Keuntungan Jutaan Per Bulan

Arnov mulai tertarik mengoleksi cupang saat pacarnya memiliki ikan cupang yang lebih bagus dari miliknya.

“Saya pun akhirnya mendatangkan 10 ikan cupang yang bagus dari luar kota,” jelas Arnov.

Sejak saat itu, pemuda lulusan D3 Komunikasi UNS itu tak berhenti mengoleksi hingga memiliki 100 ikan cupang di rumahnya.

Pedagang ikan cupang hias saat memberi makan ikan cupang hias miliknya di toko Simprug Betta Fish, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2020). Ditengah pandemi Covid-19 bisnis ikan cupang hias miliknya meningkat akibat beragam jenis ikan cupang hias Indonesia yang laris manis di pasar luar negeri, harga yang ditawarkan mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 500 ribuan. Tribunnews/Jeprima
Pedagang ikan cupang hias saat memberi makan ikan cupang hias miliknya di toko Simprug Betta Fish, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2020). Ditengah pandemi Covid-19 bisnis ikan cupang hias miliknya meningkat akibat beragam jenis ikan cupang hias Indonesia yang laris manis di pasar luar negeri, harga yang ditawarkan mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 500 ribuan. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Tak hanya sekedar mengoleksi, pemuda yang kesehariannya bekerja di event organizer ini belajar tentang pemijahan ikan, perawatan, hingga pengembangbiakan dari teman yang sehobi dengan dirinya.

Tak berapa lama kemudian pemuda mulai membeli beberapa ikan cupang dari luar daerah.

Awalnya ia sempat mendatangkan banyak ikan dari Kediri. Namun, ikan ternyata tidak sesuai harapan sehingga ia merugi hingga Rp 3 juta saat itu.

Arnov tak patah semangat, dia kembali mendatangkan 30 pasang ikan cupang jenis giant.

Dari pengembangan puluhan ikan itu, Arnov kini memiliki ribuan ekor ikan cupang jenis giant.

Dia juga memiliki ratusan koleksi ikan cupang jenis plakat dan halfmoon yang siap dijual.

Mengetahui Arnov memiliki banyak koleksi iklan cupang, teman-temanya mulai berdatangan ingin membeli ikan miliknya.

Sejak saat itu, Arnov perlahan-lahan mengembangbiakkan ikan cupang di lahan rumahnya.

Untuk pengembangan dan penjualan Arnov tak sendiri. Ia dibantu lima temannya yang satu hobi.

Masing-masing temannya memiliki peran tersendiri dalam pengembangbiakan dan bisnisnya.

“Ada yang membantu mengawasi ikan dan ada yang membantu memasarkan di media sosial,” jelas Arnov.

Tampak di halaman depan rumah pemuda itu dipajang puluhan iklan cupang yang berkualitas.

Sementara di samping kanan rumahnya terdapat ratusan ember plastik yang tersusun rapi berisi ikan cupang dewasa.

Arnov juga memanfaatkan lahan di belakang rumahnya untuk mengembangbiakkan ikan cupang.

Pria ini juga meminjam halaman rumah kakeknya khusus untuk pengembangbiakkan ikan cupang jenis giant lantaran tidak tidak ada lagi lahan kosong yang tersisa di rumahnya.

Memasuki enam bulan masa pandemi, Arnov merasakan peminat ikan cupang makin banyak dan di luar perkiraan.

Rata-rata yang ingin memelihara ikan cupang adalah warga yang terkena dampak bekerja di rumah selama masa pendemi belum berakhir.

Cupang giant paling banyak diminati

Selama pandemi berlangsung, ikan cupang jenis giant paling banyak diminati warga. Hal itu terbukti dari banyaknya warga yang memburu koleksi cupang jenis ini.

Banyaknya warga ingin memelihara ikan cupang, selain mengisi waktu selama berada di rumah, memelihara cupang juga menjadi hiburan tersendiri.

“Apalagi menariknya ikan cupang dapat displaynya harus satu-satu. Jadi satu tempat satu ikan,” kata Arnov.

Arnov sendiri lebih tertarik ikan cupang jenis giant karena panjangnya bisa mencapai sembilan sentimeter dalam waktu lima bulan.

Memasuki masa pandemi, banyak warga yang membeli ikan cupangnya via online.

Selain menjual secara langsung, Arnov menawarkan ikan cupang koleksinya via media sosial di Facebook dan Instagram dengan nama akun sehidupsecupang.

Ikan cupang miliknya sudah dikirimkan ke sejumlah wilayah, di antaranya Solo, Manado, Ciamis, Sumedang, Lampung, Bali, hingga Aceh.

Satu bayi ikan cupang jenis giant dijual Rp 25.000 hingga Rp 150.000 untuk pembelian banyak.

Sementara satu ekor ikan cupang yang bagus bentuknya dijual mulai Rp 250.000 hingga Rp 7,5 juta

“Kualitas ikan cupang terlihat dari warna, bentuk tubuh, ekor. Bentuknya bagus tidak, ekor utuh apa tidak. Kemudian warnanya banyak tidak nggak. Biasanya yang laku itu solid bersih atau warnanya banyak,” ungkap Arnov.

Selama berjualan ikan cupang, paling banyak diminati dan dicari banyak orang adalah giant multicolour.

Pasalnya ikan tersebut yang bisa menyentuh ranah kontes atau dilombakan memiliki banyak warna di tubuh dan ekornya.

Jika menang lomba maka harga seekor cupang bisa mencapai belasan juta rupiah.

Ia mencontohkan seeokor ikan cupang menang kontes juara dua sudah ditawar orang sekitar Rp 7,5 juta.

“Bahkan ada satu ikan giant ditawar dengan tukar sepeda motor honda beat tahun 2014 plus Rp 5 juta,” jelas Arnov.

Selama pandemi, omzet penjualan dalam satu bulan bisa mencapai Rp 40 juta.

Perhitungannya, setiap hari mendapatkan omzet penjualan ikan cupang dari Rp 500.000 hingga Rp 1,5 juta.

“Satu bulan penghasilan kotor mencapai Rp 40 juta,” ungkap Arnov.

Untuk merawat ikan cupang koleksinya, Arnov hanya bermodal ember plastik bekas berukuran 25 kilogram dan 35 kilogram.

Untuk perawatan dan pemeliharannya, Arnov mengimbau mengganti air didalam toples setiap hari dan menambahkan garam ikan.

Bila ikan sakit, kapasitas air direndahkan lalu ditambah metil blue.

(Kompas.com/ Aniza Pratiwi/Kontributor Solo, Muhlis Al Alawi)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Warna Ikan Cupang Pudar? Ini Penyebabnya"

dan judul "Awalnya Iseng Koleksi Ikan Cupang Saat Pandemi, Pemuda Ini Raup Omzet Rp 40 Juta Per Bulan".

BACA JUGA Tribunnewsmaker.com dengan judul Warna Ikan Cupangmu Mendadak Pudar? Waspada Bisa Jadi Tanda-tanda Stres & Ada Penyakit

Editor: Salma Fenty Irlanda
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved