Sesal Sarmiati Tak Sempat Angkat 3 Telepon dari Pratu Dedi 'Saya Penasaran Pesan Terakhirnya'

Ia tak menyangka panggilan 3 kali dari putranya yang belum sempat diangkatnya itu menjadi telepon terakhir dari Pratu Dedi.

(KOMPAS.COM/IDHAM KHALID)
suasana pemakaman Pratu Dedi Hamdani 

TRIBUNMATARAM.COM - Penyesalan terdalam dirasakan Sarmiati, ibu Pratu Dedi Hamdani yang tewas ditembak KKB Papua.

Ia tak menyangka panggilan 3 kali dari putranya yang belum sempat diangkatnya itu menjadi telepon terakhir dari Pratu Dedi.

Sarmiati berulang kali pingsan dan merasa penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Dedi sebelum tewas ditembak KKB Papua.

Linangan air mata sang ibu, Sarmiati mengiringi pemakaman Pratu Dedi Hamdani di Lombok Tengah, Minggu (24/1/2021).

Putra yang dicintainya itu gugur dalam kontak senjata dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Intan Jaya, Papua pada Jumat (22/1/2021).

Air mata kembali mengalir ketika Sarmiati teringat tak sempat mengangkat telepon dari anaknya sebelum menerima kabar duka itu.

Baca juga: Tengah Cabut Rumput Muhdin Dikabari Putranya Pratu Dedi Gugur Ditembak KKB Papua : Sedih Sekali

Baca juga: Lettu Erizal Gugur Ditembak KKB, Ayahnya Polisi Nyambi Berkebun, Ibu Jualan Kue Demi Anak Jadi TNI

Telepon tiga kali

Ilustrasi handphone.

Ilustrasi handphone.(Shanghaiist)

Sarmiati menuturkan, sebelum putranya dikabarkan gugur, Dedi meneleponnya sebanyak tiga kali.

Namun, dirinya tidak sempat mengangkat telepon lantaran tengah menjalankan ibadah.

"Yang buat saya sedih itu, pas malam Jumat kemarin, dia telepon sebanyak tiga kali, tapi saya waktu itu sedang shalat di mushala," kata dia pilu.

Samiati merasa menyesal hingga dihantui rasa penasaran terkait apa yang ingin disampaikan putranya.

"Saya coba telepon balik tapi ndak aktif handphonenya, nah itu saya sangat penasaran mungkin pesan apa yang ingin disampaikan, sebelum meninggal itu," tutur dia.

suasana rumah duka almarhum Pratu Hamdani

suasana rumah duka almarhum Pratu Hamdani(KOMPAS.COM/IDHAM KHALID)

Anak yang berbakti

Bakti Pratu Dedi kepada orangtua pun selalu dikenang oleh sang ibunda.

Sarmiati menuturkan, selama di rumah, Pratu Dedi selalu membantu pekerjaan ayah dan ibunya.

Bahkan, ia kerap mencucikan baju sang ibu.

"Anaknya baik sekali, dia sering cuci baju saya, padahal saya tidak pernah suruh. Kan tidak banyak anak remaja yang mau cuci baju ibunya, malahan anak muda sekarang banyak pakaiannya yang masih dicuci orangtuanya," kata Sarmiati.

Pingsan beberapa kali

suasana pemakaman <a href='https://mataram.tribunnews.com/tag/pratu-dedi-hamdani' title='Pratu Dedi Hamdani'>Pratu Dedi Hamdani</a>

suasana pemakaman Pratu Dedi Hamdani(KOMPAS.COM/IDHAM KHALID)

Diketahui pula, Pratu Dedi akan pulang ke kampung halaman mereka di Lombok Tengah untuk cuti menikah dua bulan lagi.

Namun, belum sempat perjumpaan dengan orangtua dan gadis pujannya terjadi, Pratu Dedi justru gugur dalam kontak senjata.

Pemakaman Pratu Dedi di Lombok diwarnai tangis keluarga.

Sang ibu yang beberapa kali jatuh pingsan bersikeras mendekati peti jenazah putranya.

"Jangan halangi saya, saya mau lihat dia dikubur," kata Sarmiati.

Prajurit TNI tengah berkonsentrasi saat melakukan pengintaian di Kampung Jalai, Distrik Sugapa, Intan Jaya, Papua.

Prajurit TNI tengah berkonsentrasi saat melakukan pengintaian di Kampung Jalai, Distrik Sugapa, Intan Jaya, Papua.(Dokumentasi TNI)

Dua prajurit gugur

Diberitakan sebelumnya, KKB menyerang Pos Titigi di Kabupaten Intan Jaya, Papua, Jumat (22/1/2021).

Dua prajurit gugur dalam penyerangan di Pos Titigi tersebut, yakni Pratu Roy Vebrianto dan Pratu Dedi Hamdani.

Pratu Roy tertembak di dada kanan.

Sedangkan Pratu Dedi sempat mengejar KKB yang berada di hutan tetapi ditembaki secara membabi buta dari arah ketinggian di hutan yang terletak antara Kampung Sugapa Lama dan Kampung Hitadipa.

Ayah : Sedih Sekali

Tak pernah terpikirkan dalam benak Muhdin (50) akan mendapatkan kabar buruk terkait anaknya, Pratu Dedi Hamdani.

Pratu Dedi Hamdani gugur dalam tugasnya sebagai prajurit TNI setelah ditembak secara membabi buta oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua.

Tentu saja, kabar yang diterima Muhdin melalui sambungan telepon Jumat (22/1/2021) ini bak petir di siang bolong.

Muhdin (50), tak kuasa menahan tangis setelah mendapat kabar putranya, Pratu Dedi Hamdani, gugur saat kontak senjata dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kabupaten Intan Jaya, Papua.

"Saya waktu itu sedang menyabit rumput terus ada keluarga yang memanggil ada telepon masuk, dapat kabar anak saya meninggal," kata Muhdin kepada Kompas.com di kediamannya, Desa Plambek, Lombok Tengah, Sabtu (23/1/2021).

Muhdin syok, perasannya tidak keruan.

"Perasaan saya sudah tidak keruan, sedih sekali, memang sebelumnya saya ada firasat mimpi," kata Muhdin.

Muhdin mengenang momen paling berkesan bersama anaknya. Saat itu, ia mengantar Dedi untuk menjalani tes masuk TNI di Singaraja, Bali.

"Yang saya ingat itu, waktu mengantar dia tes di Bali, terus bensin kami habis," kata Muhdin.

Baca juga: Nikah di Pengungsian Gempa, Prajurit TNI Ini Dapat Kado Obat-obatan, Langsung Rawat Korban Usai Akad

Baca juga: Lettu Erizal Gugur Ditembak KKB, Ayahnya Polisi Nyambi Berkebun, Ibu Jualan Kue Demi Anak Jadi TNI

Dedi, kata dia, memiliki tekad yang kuat untuk menjadi prajurit TNI. 

Hal itu terlihat dari motivasi dan latihan yang dijalani anaknya sebelum menjalani tes masuk menjadi prajurit.

suasana rumah duka almarhum Pratu Hamdani

suasana rumah duka almarhum Pratu Hamdani(KOMPAS.COM/IDHAM KHALID)

"Memang dia niatnya keras menjadi TNI, sejak kecil memang itu cita-citanya, dia latihan selalu latihan gigih," kata Muhdin.

Pratu Dedi Hamdani pernah mengikuti tes masuk kepolisian, tetapi tidak lolos. Setelah itu, ia mencoba mengikuti tes sebagai anggota TNI, tetapi juga tak lolos.

Pratu Dedi Hamdani baru lolos saat mencoba kedua kalinya mengikuti tes sebagai anggota TNI.

Sebelumnya, kelompok kriminal bersenjata (KKB) menyerang Pos Titigi di Kabupaten Intan Jaya, Papua, Jumat (22/1/2021).

Dalam penyerangan di Pos Titigi itu, Pratu Roy Vebrianto gugur karena tertembak di dada kanan.

Suriastawa mengatakan, Pratu Dedi yang bertugas di Pos Hitadipa itu berusaha mengejar kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang berada di hutan.

Tetapi, Pratu Dedi gugur karena ditembak KKB saat pengejaran itu.

"Korban ditembaki secara membabi buta dari arah ketinggian di hutan yang terletak antara Kampung Sugapa Lama dan Kampung Hitadipa," kata Suriastawa lewat keterangan tertulis, Jumat.

(Kompas.com (Penulis : Kontributor Lombok Tengah, Idham Khalid | Editor : Dheri Agriesta, Khairina)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Saya Penasaran, Pesan Apa yang Ingin Disampaikan Sebelum Anak Saya Meninggal""

dan judul "Terima Kabar Putranya Gugur di Papua, Ayah Pratu Dedi Hamdani: Perasaan Saya Tidak Keruan..."

BACA JUGA Tribunnewsmaker.com dengan judul 3 Panggilan Telepon Pratu Dedi Tak Terjawab, Ibu Menyesal : Saya Penasaran Pesan Terakhirnya

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved