Breaking News:

Gegara Tulisan Dokter yang Tak Jelas, 2 Pegawai Apotek Terlanjur Ditahan, Ternyata Tak Bersalah

Okta dan Sukma ditahan sejak Juli 2020 karena tulisan dokter di resep yang tak jelas.

Editor: Salma Fenty Irlanda
TribunJogja
Ilustrasi tulisan resep dokter 

Kuasa hukum: keduanya bukan pihak pemberi obat...

Girang dan leganya perasaan kedua terdakwa diungkapkan penasihat hukumnya Maswan Tambak, saat dihubungi Kompas.com pada Senin (1/2/2021) lewat pesan singkatnya. Maswan adalah Kepala Divisi Buruh dan Miskin Kota di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan.

"Kita apresiasi vonis hakim, majelis telah objektif melihat fakta persidangan sehingga tepat dalam mempertimbangkan dan mengambil putusan," kata Maswan.

Dalam putusannya, lanjut Maswan, majelis hakim membuat pertimbangan berdasarkan fakta-fakta persidangan yang menyatakan bahwa kedua terdakwa bukan yang memberikan obat kepada Yusmaniar, melainkan karyawan lain yaitu Endang Batubara.

Duduk perkara

Saat dia membeli obat pada 6 November 2018, kedua terdakwa belum bekerja di Apotek Istana 1. Pembelian obat di 3 Desember 2018, baru terdakwa Sukma yang bekerja namun tidak di bagian yang melayani pembelian obat.

Perkara dimulai pada 6 November 2018, usai Yusmaniar berobat di Klinik Bunda di Jalan Sisingamangaraja Nomor 17 Medan. Dokter memberinya resep, dia lalu mendatangi Apotek Istana 1 di Jalan Iskandar Muda, Kota Medan untuk menebus resep.

Karyawan yang menerima resep ragu dengan salah satu tulisan, sang dokter dihubungi namun tidak menjawab panggilan telepon. Tak mau gegabah, karyawan tersebut mengembalikan resep. 

Pada 13 Desember 2018, Yusmaniar menyuruh anaknya untuk membelikan obat dengan menggunakan resep tertanggal 6 November 2018.

Obat Amaryl M2 sebabkan korban tak sadarkan diri

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved