Breaking News:

Fakta di Balik 4 Pria Petugas Forensik Jadi Tersangka Gegara Mandikan Jenazah Covid-19 Bukan Muhrim

Empat orang pria ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi setelah dituntut oleh suami seorang jenazah bernama Zakia (50).

Facebook
Ilustrasi prosesi pemakaman korban Covid-19 

Belum usai dipersulit, sampai makam justru bukan jenazah bapaknya yang dikuburkan.

Polresta Malang Kota menangkap dua orang terkait kasus pemukulan terhadap petugas pemakaman karena jenazah pasien Covid-19 yang dibawa tertukar.

Salah satu di antaranya adalah MNH (21), putra dari pasien Covid-19 yang meninggal tersebut.

MNH mengatakan, dirinya memukul petugas karena kesal setelah mengetahui petugas Public Safety Center (PSC) 119 salah membawa jenazah.

PSC 119 merupakan relawan yang bertugas memakamkan pasien Covid-19 yang meninggal.

Baca juga: Dapat Firasat, Keluarga Paksa Lihat Jenazah Mama Terakhir Kali, Benar Saja Tertukar Jasad Laki-laki

Baca juga: Ruang ICU Penuh, Dokter Ini Curhat Terpaksa Pilah-pilih Pasien Covid-19 : Perasaan Gak Karuan

MNH menjelaskan penyebab kasus pemukulan tersebut. Hal itu, kata dia, bermula ketika dirinya berkoordinasi dengan PSC terkait penyelenggaraan pemakaman ayahnya yang meninggal karena Covid-19.

Kerabat dan keluarga jenazah kasus COVID-19 mengunjungi pemakaman di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Minggu (26/4/2020). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, selama penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak 10-23 April, tren pemakaman yang menggunakan prosedur tetap (protap) COVID-19 cenderung menurun, di mana sebelumnya mencapai 50 orang yang meninggal per hari kini 40-30 orang per hari.
Kerabat dan keluarga jenazah kasus COVID-19 mengunjungi pemakaman di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Minggu (26/4/2020). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, selama penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak 10-23 April, tren pemakaman yang menggunakan prosedur tetap (protap) COVID-19 cenderung menurun, di mana sebelumnya mencapai 50 orang yang meninggal per hari kini 40-30 orang per hari. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA via Kompas.com)

Ia menelepon pihak PSC karena jenazah ayahnya masih berada di kamar mayat Rumah Sakit Umum Daerah Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang pada Kamis (28/1/2021).

"Saya telepon pihak PSC menanyakan tentang jam pemakamam bapak saya. PSC mengatakan bahwa bapak saya dimakamkan pada kloter keempat. Terus saya tanya kira-kira itu jam berapa. PSC tidak bisa memastikan. Lalu saya pulang dulu sambil menunggu konfirmasi selanjutnya," kata MNH di Mapolresta Malang Kota, Jumat (29/1/2021).

MNH mengaku mendapat telepon dari petugas PSC sekitar pukul 12.27 WIB. Petugas menjelaskan, pemakaman kloter ketiga sudah berangkat.

Petugas meminta dirinya bersiap karena jenazah sang ayah berada di kloter keempat.

"Saya sama sepupu berangkat berdua ke rumah sakit untuk menunggu. Sebagian (keluarga) ke makam," katanya.

Tak lama menunggu di rumah sakit, mobil ambulans datang. Tetapi, petugas memakamkan jenazah pasien Covid-19 lain.

Alasannya, petugas ingin menyelesaikan pemakaman jenazah yang dikubur di TPU Sukun. Sementara, ayah MNH dimakamkan di TPU Kasin.

"Saya diloncatin satu dulu enggak apa-apa. Tapi selanjutnya bapak saya," katanya.

Namun, setelah pemakaman di TPU Sukun selesai, petugas malah berencana memakamkan jenazah lain. MNH pun protes dan meminta jenazah ayahnya yang dimakamkan selanjutnya.

"Saya jelaskan kalau saya habis ditelepon oleh call center untuk persiapan, harusnya bapak saya. Tapi kok kenapa bapak saya tidak diangkat malah diloncatin lagi," katanya.

Hal itu memicu ketegangan antara dirinya dan petugas PSC.

"Ada petugas yang mungkin karena capek mereka emosi. Dia menganggap seakan-akan saya melawan petugas. Padahal kan saya mencoba menjelaskan bahwa kloter bapak yang harus berangkat. Tapi mereka mengatakan bahwa bukan bapak saya yang diberangkatkan, bapak saya nanti," katanya.

Ketegangan semakin terjadi ketika dirinya mengatakan akan membawa jenazah ayahnya secara mandiri.

"Petugas mulai tersinggung, mulai ada sedikit gesekan. Salah satu dari petugas ini menabrak kakak saya. Saya mencoba untuk memisahkan," katanya.

"Bapak saya meninggal kok urusannya berbelit. Saya coba mendinginkan kakak saya. Saya bilang nggak apa-apa diangkat saja," tambah MNH.

Setelah itu, kedua pihak menemui jalan tengah. Jenazah ayahnya akhirnya dibawa petugas untuk dimakamkan di TPU Kasin.

Jenazah ternyata tertukar

Hanya saja, keluarga kecewa ketika mendapati ambulans yang tiba di lokasi pemakaman keliru membawa jenazah.

Jenazah yang dibawa petugas ternyatan pasien Covid-19 lain. Padahal, kata MNH, keluarganya sempat menyalati jenazah tersebut di makam.

Saat proses shalat jenazah dilakukan, keluarganya belum mengetahui kekeliruan tersebut.

"Saat peti ini mau dimasukkan ke liang kubur, saya baru sadar karena posisi saya memang agak tinggi dari peti. Jadi saya lihat tulisan di peti itu bukan nama bapak saya," katanya.

MNH lalu memberi tahu keluarga bahwa jenazah itu bukan ayahnya.

"Saya bilang ke keluarga bahwa ini bukan bapak saya. Di situ lah timbul kekacauan lagi antara keluarga saya dan petugas," jelas dia.

MNH pun mencari koordinator petugas pemakaman tersebut. Namun, ia tak menemukannya.

Akhirnya, ia memukul salah satu petugas yang bernama Alfa.

"Kami terpancing emosi, kakak saya menabrak salah satu petugas. Tidak lama, karena saya spontanitas emosi, saya memukul salah satu petugas," jelasnya.

Meski begitu, ia membantah ada keluarga yang memegang petugas tersebut.

"Perlu saya luruskan, tidak ada orang memegang terus saya pukuli tidak ada. Jadi pertama memang ditabrak oleh saudara saya, dipegang oleh orang-orang. Disusul oleh saya yang spontan memukul salah satu petugas itu," katanya.

Sebelumnya, MNH (21) dan sepupunya, BHO (24), ditangkap Polresta Malang Kota akibat insiden pemukulan tersebut.

Sementara itu, Koordinator Public Safety Center (PSC) 119 Dinas Kesehatan Kota Malang, Dhana Setiawan mengatakan, insiden tertukarnya jenazah itu merupakan ketidaksengajaan dari petugas.

Menurutnya, petugas di lapangan sedang tidak fokus akibat capek. Ditambah, petugas dan keluarga jenazah sempat bersitegang.

(Kontributor Pematangsiantar, Teguh Pribadi/Kontributor Malang, Andi Hartik)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "4 Petugas Forensik Ditetapkan Tersangka Gegara Mandikan Jenazah Wanita yang Bukan Muhrim, Ini Faktanya"

dan judul "Keluarga Jenazah Pasien Covid-19 yang Tertukar: Bapak Saya Meninggal Kok Urusannya Berbelit..."

BACA JUGA Tribunnewsmaker.com dengan judul Gegara Mandikan Jenazah Positif Covid-19 Bukan Muhrim, 4 Pria Petugas Forensik Jadi Tersangka

Editor: Salma Fenty Irlanda
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved