Breaking News:

Isu Impor Beras Pemerintah Pusat Bikin Petani NTB Gigit Jari : Kenapa Harus Impor? Kita Panen Raya

Sudah membayar mahal untuk biaya tanam, kini hasil panen beras mereka justru terancam sia-sia.

Editor: Salma Fenty Irlanda
(SHUTTERSTOCK.com/FENLIOQ)
lustrasi petani Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat: Android: https://bit.ly/3g85pkA iOS: https://apple.co/3hXWJ0L 

TRIBUNMATARAM.COM - Isu impor beras yang akan dilakukan pemerintah pusat ikut membuat petani di Lombok, Nusa Tenggara Barat / NTB gigit jari.

Sudah membayar mahal untuk biaya tanam, kini hasil panen beras mereka justru terancam sia-sia.

Isu impor beras ini dikhawatirkan akan membuat tengkulak mencari kesempatan menawar harga serendah mungkin.

Rencana pemerintah pusat melakukan impor beras menuai protes dari kalangan petani di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Petani di Desa Gemel, Lombok Tengah, Akhyar Rosidi (33) mengaku khawatir rencana impor beras membuat harga padi merosot di tengah panen raya.

"Jangan sampai saat penen harga padi turun dengan adanya impor beras, seharusnya pemerintah berani beli gabah petani dengan harga yang lebih menguntungkan petani," kata Akhyar, Jumat (19/3/2021), dikutip dari  Kompas.com dengan judul "Petani di NTB Khawatir Rencana Impor Beras Buat Harga Padi Merosot"

Akhyar menyampaikan, pengeluaran biaya produksi pada musim tanam tahun ini sangat tinggi, mengingat kelangkaan pupuk subsidi.

Sehingga harus membeli mahal kepada pengepul.

Baca juga: PENTING Lakukan Ini pada Beras Sebelum Masuk Rice Cooker, Nasi Dijamin Tahan Basi!

Baca juga: POPULER Tangis Haru Pria Ditolong Polisi setelah Ketahuan Terpaksa Curi Beras Saking Kelaparan

"Apalagi kemarin pupuk sempat langka, petani butuh dukungan semangat dari Pemerintah, dalam hal ketersediaan pupuk yang murah dan selain itu harga gabah harus bisa dijaga saat panen raya," kata Akhyar.

Dalam setiap musim tanam padi, ia mengeluarkan biaya produksi sekitar Rp 3 juta untuk membeli benih, ongkos membajak traktor, pupuk, buruh dan lainnya.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved