Isu Impor Beras Pemerintah Pusat Bikin Petani NTB Gigit Jari : Kenapa Harus Impor? Kita Panen Raya

Sudah membayar mahal untuk biaya tanam, kini hasil panen beras mereka justru terancam sia-sia.

(SHUTTERSTOCK.com/FENLIOQ)
lustrasi petani Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat: Android: https://bit.ly/3g85pkA iOS: https://apple.co/3hXWJ0L 

"Ini yang biasanya dimanfaatkan para pengepul, walaupun masih sebatas wacana tapi faktanya di lapangan, kadang harga padi kering giling yang biasanya Rp 400.000 per kuintal, ada yang turun menjadi Rp 390.000, Rp 385.000," kata Supardi.

"Kalau memang pemerintah sigap, mau menyelamatkan ekonomi petani, di tengah situasi Covid-19 ini, iya tentu harus memberdayakan hasil petani-petani kita," sambungnya.

Sementara itu, seorang petani di Desa Darek, Kecamatan Praya Barat Daya, Humam Balya mengatakan, wacana kebijakan pemerintah tersebut hadir pada waktu yang tidak tepat.

Menurut Balya, rencana impor beras akan menganggu stabilitas harga padi saat panen raya.

"Ini kan kita lagi panen raya, biarlah kita menikmati harga dulu, jangan sampai dengan kebijakan ini mengganggu harga, terserah kalau nanti selesai panen raya kebijakan seperti apa," kata Balya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Lombok Tengah Iskandar menyebutkan, pemerintah melakukan impor beras sejauh ini hanya sebatas rencana.

Iskandar menyebutkan, jika kebijakan tersebut terjadi, tidak akan berdampak pada daerah yang memiliki cadangan pangan banyak seperti di Lombok Tengah, NTB.

"Kalaupun terjadi impor beras enggak mungkin masuk NTB karena trend produksi kita cendrung naik secara signifikan," kata Iskandar.

Menurut Iskandar, sasaran beras impor tersebut adalah kabupaten dan provinsi yang bukan sentra padi.

"Itu hanya sebatas intervensi bila terjadi fluktuasi harga," ujarnya.

Iskandar menyebutkan, pihak telah berkoordinasi dengan berbagai pihak agar gabah dari petani tetap mendapatkan harga yang layak.

"Salah satu hal yang harus segera kita lakukan adalah melakukan rapat koordinasi dengan banyak pihak seperti Bulog, bank, Gapoktan untuk kita diskusikan bersama terkait dengan harga gabah dan meningkatkan serapan pembelian Bulog," kata Iskandar. (Kompas.com/ Kontributor Lombok Tengah, Idham Khalid)

#NTB #Lombok

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved