Sejarah Kelam Kedung Ombo: Pembangunan Ditentang & Telan 37 Desa Hanya Demi Habiskan Dana Bank Dunia

Berikut sejarah kelam pembangunan Waduk Kedung Ombo. Para penentang kebijakan waduk diberi label PKI.

Editor: Irsan Yamananda
TribunSolo.com/Agil Tri
Perahu yang bikin petaka dipasang garis polisi di Waduk Kedung Ombo di Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Sabtu (15/5/2021) sore. 

TRIBUNMATARAM.COM - Berikut sejarah kelam pembangunan Waduk Kedung Ombo.

Para penentang kebijakan waduk diberi label PKI. 

Simak ulasan selengkapnya.

Kejadian mengerikan 9 orang tewas tenggelam di Waduk Kedung Ombo membuka kembali memoar perjalanan pembangunannya.

Waduk buatan era Presiden Soeharto itu, berada di wilayah Kabupaten Boyolali, Sragen dan Grobogan.

Hal itu dikisahkan oleh salah seorang Aktivis Komite Solidaritas Waduk Kedung Ombo, Wahyu Susilo kepada TribunSolo.com.

Bukan Hanya Perahu Terbalik, Kecelakaan Air di Kedung Ombo Ternyata Sering Terjadi, Simak Catatannya

Senasib dengan Jalal, Jasad Korban Terakhir Perahu Maut Kedung Ombo Juga Mengapung di Permukaan

Dirinya menceritakan, banyak hal janggal saat proses pembebasan lahan saat itu mulai tahun 1985 silam.

"Banyak masyarakat yang menentang, karena luas waduk itu sendiri menelan 37 desa di tiga kabupaten yaitu, Sragen, Boyolali, dan Grobogan," katanya kepada Senin (17/5/2021).

"Hanya demi menghabiskan dana bantuan dari Bank Dunia," terangnya menekankan.

Ya, menurut dia, Bank Dunia mengucurkan anggaran hingga 156 juta US dolar untuk membangun waduk seluas 5.898 hektar tersebut.

Story WhatsApp Terakhir Korban Tewas Perahu Terbalik Kedung Ombo, Keluarga : Mata Kedutan dari Pagi

Maka banyak lahan yang harus ditenggelamkan demi sebuah waduk tersebut.

"Terutama lahan yang digusur itu sebagian besar merupakan sawah milik warga, sehingga mereka mau makan apa saat itu?," ungkapnya.

Tragisnya menurut dia, para penentang kebijakan Waduk Kedung Ombo tidak hanya diperkarakan secara hukum, namun juga difitnah dan diberi label sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Maklum saat itu ada yang menentang karena dinilai tidak ada komunikasi dengan baik dengan masyarakat sekitar.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Solo
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved