Israel Menolak Gencatan Senjata, Sang Pemimpin: 'Hanya Ada Dua Cara untuk Menangani Hamas'

Israel menolak gencatan senjata dengan Hamas. Menurut pemimpinnya, hanya ada dua cara untuk menangani Hamas.

Editor: Irsan Yamananda
AP PHOTO/KHALIL HAMRA
Seorang polisi Palestina berdiri di depan reruntuhan Jala Tower, gedung 13 lantai kantor media Al Jazeera dan Associated Press, yang diledakkan serangan udara Israel di Gaza pada Sabtu (15/5/2021). 

TRIBUNMATARAM.COM - Israel menolak gencatan senjata dengan Hamas.

Menurut pemimpinnya, hanya ada dua cara untuk menangani Hamas.

Berikut ulasan selengkapnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak seruan AS dan Rusia untuk gencatan senjata dan mengatakan dia "tidak akan menyerah kepada Hamas tanpa kemenangan".

Kremlin memperingatkan Israel bahwa korban sipil di Gaza "tidak dapat diterima", ketika jumlah kematian meningkat hingga 227. Saat ini, sejumlah negara sedang membicarakan deeskalasi atas bentrokan Israel dan Hamas.

Kesaksian Lengkap Pilot Israel Batalkan Serangan Udara di Gaza Setelah Melihat Ada Anak-anak

Seruan deeskalasi dikeluarkan setelah serangan Israel di Gaza membunuh 7 orang, termasuk seorang pria cacat fisik, waniita hamil, dan anak mereka berusia 3 tahun, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan serangan Israel telah membunuh total 227 orang sejak konflik dimulai pada Senin (10/5/2021).

Melansir The Sun pada Kamis (20/5/2021), Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada pagi ini mengancam untuk "menaklukkan" Hamas dan mengatakan negaranya "tidak akan menyerah tanpa kemenangan mutlak".

Berbicara di Tel Aviv, pemimpin Israel berkata, "Hanya ada dua cara Anda dapat menangani Hamas. Anda menaklukkan mereka, yang selalu menjadi kemungkinan terbuka, atau Anda dapat menghalami mereka."

"Kami sedang dalam mencegah paksa, tetapi saya harus mengatakan kami tidak mengesampingkan apa pun," imbuhnya merujuk pada serangan yang dilakukan saat ini ke kelompok militan yang berkuasa di Palestina, Hamas.

Ketika ditanya berapa lama operasi akan berlanjut, dia berkata: "Kami tidak berdiri dengan stopwatch. Kami fokus pada tujuan operasi."

Beri Dukungan pada Palestina, Mantan Bintang Film Panas Mia Khalifa Soroti Bantuan Amerika ke Israel

"Operasi sebelumnya berlangsung lama, jadi tidak mungkin menyetel jangka waktu," ungkapnya.

Namun, seorang pejabat senior Hamas memperkirakan gencatan senjata dalam beberapa hari.

"Saya pikir upaya yang sedang berlangsung terkait gencatan senjata akan berhasil," kata pejabat politik Hamas, Moussa Abu Marzouk, kepada TV al-Mayadeen Lebanon seperti dikutip dari Kompas.com dengan judul "Menolak Gencatan Senjata, Israel Ancam Taklukkan Hamas".

"Saya berharap gencatan senjata dicapai dalam satu atau dua hari, dan gencatan senjata akan berdasarkan kesepakatan bersama," ujar Marzouk.

Netanyahu berdiskusi dengan Presiden AS Joe Biden pada Rabu (19/5/2021), yang mana Biden menginginkan "deeskalasi yang signifikan hari ini."

Gedung Putih mengkonfirmasi pembicaraan Biden dengan Netyanyahu pada Rabu pagi waktu setempat.

Pengakuan Korban Serangan Israel

Hussein Abdul Qleeq menjalani perawatan di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza.

Ia mengalami luka di bagian leher, tangan, dan punggung setelah terkena pecahan peluru meriam tentara Israel yang dijatuhkan di wilayah Jalur Gaza pada Jumat (14/5/2021) kemarin.

Saat Israel membombardir kawasan Jalur Gaza, Hussein sedang berada di loteng rumahnya. 

"Saat itu saya sedang duduk bersama keluarga saya," tutur pria berusia 30 tahun itu, dikutip Tribunnews.com dari theguardian.com, Sabtu (15/5/2021). 

"Tiba-tiba ada suara gemuruh artileri di perbatasan (Israel-Palestina). Saya tidak mengharapkan meriam-meriam itu akan mengenai rumah-rumah warga. Anak-anak mulai menangis dan berteriak, sampai akhirnya sebuah meriam menghantam rumah kami," sambung Hussein.

Korban serangan Israel di Jalur Gaza 450
Hussein Abdul Qleeq, warga Gaza yang menjadi korban serangan rudal tentara Israel. Ia mengalami luka di bagian leher, tangan, dan punggung akibat pecahan peluru meriam tentara Israel yang dijatuhkan di wilayah Gaza, Jumat (14/5/2021) kemarin.(The Guardian)

Hussein tinggal di Desa Bedouin yang berada di bagian utara Beit Lahia, Jalur Gaza. 

 Joe Biden Desak Hamas Berhenti Tembakkan Roket ke Israel dan Menentang Penggusuran Warga Palestina

Bagian utara Beit Lahia yang berdekatan dengan perbatasan Israel menjadi lokasi yang berbahaya saat terjadi konflik.

Itu dikarenakan bagian utara Beit Lahia merupakan titik masuk utama yang digunakan tentara Israel untuk menyerang. 

Lokasi ini juga rentan terhadap bom dan artileri karena digunakan sebagai garis pertahanan oleh pejuang militan Gaza.

"Momen itu sangat mengerikan sampai-sampai Anda tidak akan bisa membayangkannya. Kami telah hidup di sini melewati tiga peperangan, tetapi baru kali ini pengeboman secara brutal terjadi begitu tiba-tiba," tutur Hussein mengenang peristiwa yang dia alami, mengutip dari Tribunnews.com berjudul : Cerita Korban Serangan Israel di Jalur Gaza, Anak-anak Teriak dan Menangis, Momen Itu Mengerikan

Sebagaimana dialami Hussein, di masa lalu, setiap akan melakukan penyerangan, tentara Israel biasanya memberikan peringatan kepada masyarakat sipil di Gaza. 

Petugas pemadam kebakaran bergegas ke tempat roket yang diluncurkan dari Jalur Gaza, yang dikendalikan oleh gerakan Hamas Palestina, mendarat di kota Ashkelon di Israel selatan pada 11 Mei 2021. Israel dan Hamas saling baku tembak, dalam eskalasi dramatis antara musuh bebuyutan yang dipicu oleh kerusuhan di titik nyala kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.
Petugas pemadam kebakaran bergegas ke tempat roket yang diluncurkan dari Jalur Gaza, yang dikendalikan oleh gerakan Hamas Palestina, mendarat di kota Ashkelon di Israel selatan pada 11 Mei 2021. Israel dan Hamas saling baku tembak, dalam eskalasi dramatis antara musuh bebuyutan yang dipicu oleh kerusuhan di titik nyala kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. (JACK GUEZ / AFP)

"Tetapi kali ini sama sekali tidak ada peringatan yang diberikan," ujar Hussein. 

Jonathan Conricus, juru bicara tentara Israel, mengungkapkan, pihaknya selalu mengarahkan rudal kepada target yang telah ditetapkan. 

Namun, mereka tidak selalu bisa memberikan peringatan kepada masyarakat sipil yang ada di Jalur Gaza.

"Seperti biasa, tujuannya adalah untuk menyerang target militer dan meminimalkan kerusakan tambahan dan korban sipil," ujar Jonathan dalam keterangan pers tentara Israel, Sabtu (15/5/2021).

"Biasanya kami memperingatkan masyarakat sipil sebelum kami menyerang gedung-gedung tinggi atau besar di Gaza, tapi itu tidak mungkin dilakukan dalam serangan kali ini," tutur Jonathan.

 Makin Brutal, Tentara Israel Tingkatkan Serangan di Gaza, 10.000 Warga Terpaksa Tinggalkan Rumah

Foto sebelum dan sesudah Israel dibom

Viral di media sosial, foto perbandingan suasana di Gaza sebelum dan setelah Israel melakukan rentetan pengeboman.

Foto tersebut ramai di Twitter.

Mulanya, akun @yasminhasiba membagikan dua foto yang disandingkan.

Dalam narasinya, foto pertama diambil sebelum Israel melakukan pengeboman, yakni pada awal Ramadhan, 13 April.

Kemudian foto kedua menunjukkan kawasan toko dan jalanan setelah Israel mengebom Gaza pada akhir Ramadhan, 13 Mei.

Mengutip dari TribunJabar Viral Foto Perbandingan Sebelum & Sesudah Israel Bom Gaza, Serangan Udara Runtuhkan 3 Blok Apartemen, foto tersebut sangat berbeda.

Pada foto pertama terlihat keramaian.

 Pernah ke Palestina untuk Bagi Alquran, Via Vallen: Ibadah ke Al Aqsa Harus Lewatin Tentara Israel

Mobil yang terparkir berjejer dan sejumlah orang berjalan di trotoar.

Listrik menyala dan suasana terlihat ramai.

Foto kedua merupakan kebalikan foto pertama.

Kawasan tersebut berubah seperti kota mati.

Tidak terlihat keramaian seperti foto pertama.

Bangunan hancur. Debu dan sampah material berserakan di jalan.

Viral foto perbandingan sebelum dan sesudah Israel mengebom Gaza
Viral foto perbandingan sebelum dan sesudah Israel mengebom Gaza (Twitter)

Berdasarkan Sabtu (15/5/2021) pukul 16.30 WIB, cuitan akun tersebut sudah 6.962 orang yang menyukai dan 10.100 retweet.

Dikutip dari Kompas.com, militer Israel telah menggempur 150 target Hamas dan jaringan terowongan di Gaza melalui serentetan pengeboman yang mematikan.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah melancarkan lebih dari 600 serangan udara dan meruntuhkan setidaknya tiga blok apartemen di Gaza.

Serangan dari Darat dan Udara

IDF mengatakan pasukan udara dan daratnya telah melancarkan serangan pengeboman.

Dalam semalam, IDF telah menjatuhkan 450 rudal di Jalur Gaza hanya dalam 40 menit pada Kamis (13/5/2021) malam waktu setempat.

Pengeboman tersebut dianggap sebagai pengeboman terbesar hingga saat ini sebagaimana dilansir The Sun, Jumat (14/5/2021).

Ketika konflik meningkat, sekitar 160 pesawat Israel terbang bersama-sama untuk melakukan serangan besar-besaran di Gaza.

Serangan udara selama 40 menit tersebut adalah pengeboman terbesar Israel sejak pecahnya pertempuran yang dimulai awal pekan ini, kata militer.

Sekitar 9.000 tentara cadangan Israel juga telah disiagakan di tengah meningkatnya kekerasan di wilayah tersebut.

IDF telah melancarkan lebih dari 600 serangan udara dan meruntuhkan setidaknya tiga blok apartemen di Gaza.

Di sisi lain, milisi Palestina di Gaza telah menembakkan sekitar 1.800 roket.

Jumlah Korban

Dan pada Kamis malam, 220 proyektil tambahan ditembakkan ke Israel dari Gaza.

Sejauh ini, sebanyak 119 warga Palestina dan delapan warga Israel telah tewas.

Senjata Tempur Israel

Melansir The Sun, berikut senjata Israel yang dipakai untuk menggempur Israel lewat serangan udara.

1. Jet Tempur F-35 Lightning II

Jet tempur buatan Amerika Serikat (AS) ini berfungsi untuk melakukan misi superioritas udara dan serangan.

F-35 juga mampu memberikan kemampuan dalam peperangan elektronik dan intelijen, pengawasan, serta pengintaian.

Jet tempur ini merupakan pesawat siluman berkursi tunggal dan bermesin tunggal yang mampu terbang dengan ketinggian maksimal sekitar 15.000 meter.

F-35 memiliki dua ruang senjata internal dengan total empat stasiun senjata.

Dua stasiun tersebut dapat membawa rudal udara-ke-darat atau bom hingga 910 kilogram masing-masing dalam model A dan C, atau bom hingga 450 kg kilogram masing-masing dalam model B.

2. Drone Hermes 900

Pesawat nirawak (UAV) ini merupakan bikinan dalam negeri Israel dari perusahaan Elbit Systems.

Drone Hermes 900 memiliki kemampuan memiliki kapasitas angkut muatan sebesar 350 kilogram.

Melansir situs resmi Elbit Systems, drone ini mampu melakukan misi untuk dominasi wilayah, intelijen, pengawasan, akuisisi target, dan pengintaian (ISTAR).

Hermes 900 juga dapat melakukan misi pendukung operasi darat dan patroli maritim.

Drone ini juga menawarkan kemampuan untuk operasi multi-platform yang terintegrasi.

3. Helikopter tempur Apache

Helikopter Apache adalah sebuah helikopter tempur diklaim bisa beroperasi di segala cuaca.

Apache dikemudikan oleh dua awak dan persenjataan utamanya adalah meriam kaliber 30 mm yang terletak di bawah moncongnya.

Helikopter ini juga bisa membawa kombinasi persenjataan lain seperti AGM-114 Hellfire dan pod roket Hydra 70.

Angkatan Udara Israel menggunakan helikopter Apache untuk menyerang berbagai sasaran dengan menggunakan rudal.

Israel menggunakan helikopter ini untuk menyerang dan menghancurkan beberapa pos pengamat Hezbollah di Lebanon pada 1990-an.

4. Irone Dome

Irone Dome alias Kubah besi sebenarnya bukanlah senjata, melainkan sebuah sistem pertahanan udara.

Sistem pertahanan idara ini digunakan Israel untuk menangkis setiap serangan roket yang diluncurkan dari berbagai wilayah, termasuk dari Jalur Gaza.

Irone Dome diklaim mampu merontokkan artileri 155 milimeter yang ditembakkan dari jarak 4 sampai 70 kilometer.

Dikembangkan oleh Rafael Advanced Defence Systems, alutsista itu bisa beroperasi dalam cuaca berkabut, badai pasir, hingga hujan.

Jika serangan terjadi, Iron Dome akan memantau pergerakannya menggunakan radar dan memprediksi titik jatuhnya.

Pusat kendali akan menghitung titik intersep, dan memerintahkan peluncuran sebelum misilnya mencapai area penduduk.

(Tribunnews/Lusius Genik/TribunJabar/ Fidya Alifa Puspafirdausi)(Kompas/ Shintaloka Pradita Sicca)

#Gaza #Palestina #Israel

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved