Breaking News:

Anaknya Diduga Dibaiat NII, Ortu di Garut: Dia Bilang Islam Kita Gelap, Jadi Hijrah ke Tempat Terang

Berikut pengakuan orangtua remaja yang diduga dibaiat Negara Islam Indonesia di Garut, Jawa Barat.

Editor: Irsan Yamananda
KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHA
Illustrasi - Berikut pengakuan orangtua remaja yang diduga dibaiat Negara Islam Indonesia di Garut, Jawa Barat. 

Menurut dia, sang anak mengikuti pengajian tersebut dan masuk NII setelah diajak teman dekatnya dan kemudian dibaiat oleh gurunya.

“Baiat hijrah katanya, dari Islam kita seperti biasa, dia bilang Islam kita nih gelap, jadi hijrah ke tempat yang terang. NII itu, menurut versi mereka, NII itu terang,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, dugaan pembaitan terbongkar bermula saat pengurus MUI Kabupaten Garut melapor hal tersebut.

Dalam laporannya disebutkan ada aktivitas pengajian baiat di sebuah masjid di Kelurahan Sukamenteri

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Garut Kota Aceng Amirudin kemudian menindaklanjuti temuan tersebut dan melakukan pemantauan di masjid.

Namun, menurut Aceng, saat itu pengajian tersebut sudah tidak ada, dan diduga para pengikut pengajian tersebut sudah mengetahui aktivitas mereka diketahui.

Meski demikian, menurut Aceng, pihaknya berupaya mendalami dan mengembangkan informasi tersebut, hingga akhirnya bisa bertemu dengan salah seorang orangtua dari anak yang mengikuti pengajian.

Ia menceritakan, saat dilakukan tabayun, memang ada anak yang menyebut negara Indonesia sebagai thogut, karena hukum yang digunakan bukan hukum Islam. Bahkan, sebelumnya anak tersebut tidak mau mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca juga: Densus 88 Ringkus Terduga Teroris Bogor, Pelaku Diamankan saat Racik Bom, Medsos Ungkap Identitasnya

Namun, setelah diberitahu akibatnya, akhirnya anak tersebut mau kembali mengakui NKRI.

“Kemarin waktu bicara di sini, dia itu mengatakan bahwa Indonesia hukumnya bukan Islam, kalau seperti itu, itu thogut. Tapi setelah diberi tahu akibatnya, dia akhirnya mau kembali ke NKRI,” tuturnya seperti dikutip dari Kompas TV dengan judul Kata Orang Tua di Garut yang Anaknya Diduga Terpapar NII: Baiat Hijrah ke Arah yang Terang.

Kasus Terorisme Lainnya

Nama Ali Kalora tengah menjadi sorotan.

Seperti diketahui, ia merupakan pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Ali Kalora menjadi bahan perbincangan setelah dilaporkan tewas.

Berdasarkan informasi, Kalora tewas ditembak Satgas Mandago.

Penembakan itu terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu (18/9/2021) sekira pukul 17.20 Wita.

Seorang anak buahnya bernama  Jaka Ramadhan juga tewas dalam baku tembak tersebut.

Baca juga: Ayah Ditangkap saat Berangkat Kerja & Dituduh Teroris, Gadis di Deliserdang: Ada yang Sebut Nama Dia

Baca juga: Laporkan Nikita Mirzani ke Polres Demak, Abdul Malik: Tiba-tiba di-DM Kata Kotor & Dibilang Teroris

Ali Kalora, teroris paling dicari Indonesia akhirnya tewas ditembak Satgas Madago. Ditwitter Ali Kalora masuk dalam trending Innalillahi.
Ali Kalora, teroris paling dicari Indonesia akhirnya tewas ditembak Satgas Madago. Ditwitter Ali Kalora masuk dalam trending Innalillahi. (Twitter)

Kabar meninggalnya Ali Kalora turut jadi trending topic di Twitter.

"Innalillahi wainnailaihi rojiun... Jenazah TERORIS Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora dan Jaka Ramadhan alias Ikrima tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Palu, pada minggu subuh (19/9) sekitar pukul 04.00 WITA Bravo TNI-Polri," tulis akun @BiLLRaY2019,

Kematian DPO Ali Kalora ini dipastikan oleh Danrem 132 Tadulako Brigjen TNI Farid Makruf.

 "DPO diduga Ali Kalora dan Jaka Ramadhan saat ini dalam perjalanan menuju TKP," Danrem 132 Tadulako Brigjen TNI Farid Makruf.

Baca juga: Rampas Senjata Lalu Tusuk Polisi, Pria di Palembang Ngaku Teroris, Ibu Pelaku: Pernah Dirawat di RSJ

Ali Kalora telah menjadi pemimpin kelompok MIT sejak tahun 2016, menggantikan Santoso yang tewas dalam baku tembak dengan personel Operasi Tinombala pada Juli 2016.

Awalnya, Ali memimpin kelompok MIT bersama Basri. Namun, setelah Basri ditangkap, Ali Kalora dijadikan sebagai target utama dari Operasi Tinombala.

MIT diketahui memiliki rekam jejang panjang dengan terlibat dalam berbagai aksi teror yang terjadi di wilayah Poso, Sulawesi Tengah.

Kelompok tersebut sempat menjadi perbincangan karena dituding terlibat dalam pembunuhan satu keluarga dan pembakaran rumah di Sigi, Sulawesi Tengah, November 2020.

Perisitwa itu menewaskan empat orang. Jenazah empat orang yang merupakan satu keluarga itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan.

Masyarakat Diminta Tenang

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD berharap masyarakat tetap tenang usai pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Ahmad alias Kalora tewas ditembak Satgas Mandago di Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu (18/9/2021).

"Masyarakat harap tenang," ujar Mahfud, dikutip dari akun Twitter-nya, @mohmahfudmd, Sabtu (18/9/2021).

Mahfud pun menceritakan rekam jejak keberingasan Ali Kalora bersama kelompoknya ketika melancarkan aksi teror.

Mahfud mengatakan, Ali Kalora pernah menggegerkan masyarakat karena pernah menyembelih banyak warga dengan sadis di Sulawesi Tengah.

Baca juga: Sosok Abah Popon, Pria yang Disebut Terduga Teroris Orang Pintar, Dianggap Bisa Beri Ilmu Kebal

Setelah buron hampir setahun, Ali Kalora pun ditembak mati oleh aparat keamanan.

"Ia ditembak bersama seorang anak buahnya yang bernama Ikrimah," kata Mahfud.

Sebelumnya, Ali Kalora bersama kelompoknya terlibat baku tembak dengan Satgas Mandago di Pegunungan Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong.

Dikutip dari TribunPalu, Ali Kalora ditembak bersama seorang anggota MIT Poso lainnya setelah terlibat baku tembak dengan personel Satgas Madago Raya di daerah Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng.

Lokasi penembakan Ali Kalora berada kurang lebih sekira 5 km dari TKP Buana Sari, lokasi tewasnya anggota MIT Poso bernama Abu Alim.

Di TKP, aparat menemukan barang bukti berupa satu pucuk senjata api (senpi) laras panjang jenis M16, satu bom tarik, 1 bom bakar dan sejumlah perlengkapan lainnya.

Terkait kabar tewasnya Ali Kalora ini, beredar foto sesosok mayat berambut panjang dengan tas ransel di punggungnya tergeletak di jalan.

Pria dalam foto tersebut disebut-sebut adalah Ali Kalora, panglima Teroris Poso di Pegunungan Poso yang sudah menjadi target Satgas Madago Raya, sebelumnya bernama Satgas Tinombala, sejak 2016.

Dari foto yang diperoleh TribunPalu.com, terdapat sepucuk sejata laras panjang di samping mayat Ali Kalora.

Waksatgas Humas Operasi Madago Raya, AKBP Bronto Budiyono mengatakan jenazah Ali Kalora sudah dievakuasi dan tiba di Palu sekira pukul 04.00.

Ilustrasi - Ali Kalora, teroris paling dicari Indonesia akhirnya tewas.
Ilustrasi - Ali Kalora, teroris paling dicari Indonesia akhirnya tewas. (Kompas/ handout)

Proses evakuasi tidak mudah karena sempat terkendala medan yang sulit dan gelap.

"Sudah dievakuasi dan tiba jam 4 subuh di RS Bhayangkara," ujar Waksatgas Humas Operasi Madago Raya, Minggu pagi.

Profil Ali Kalora

Ali Kalora merupakan pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur.

Ia menjadi pimpinan MIT bersama dengan Basri, menggantikan Santoso yang tewas pada 18 Juli 2016.

Ia ditetapkan sebagai target utama dari Operasi Tinombala pada 2016 oleh Kapolri saat itu, Jenderal Tito Karnavian.

Ali Kalora menjadi target utama setelah Basri ditangkap Satgas Tinombala.

Ali Kalora lahir di Desa Kalora, Kecamatan Posi Pesisir Utara, Poso.

Istrinya bernama Tini Susanti Kaduka, alias Umi Farel.

Nama Kalora disematkan merujuk pada desa tempat ia dilahirkan seperti dikutip dari Tribunnews.com dengan judul Profil Ali Kalora, Pentolan Teroris MIT Poso yang Disebut Tewas, Pernah Bantai Satu Keluarga di Sigi, 

Baca juga: Densus 88 Ringkus Terduga Teroris Bogor, Pelaku Diamankan saat Racik Bom, Medsos Ungkap Identitasnya

Sebelum menjadi pimpinan MIT, Ali Kalora merupakan salah satu pengikut senior Santoso di kelompok Mujahidin Indonesia Timur.

Baca juga: Menantang Persipura, Pelatih Persija Angelo Alessio Bertekad Meraih Tiga Poin Perdana di Liga 1 2021

Setelah kematian Daeng Koro, salah satu figur utama dalam kelompok MIT, Ali dipercayakan untuk memimpin sebagian kelompok teroris yang sebelumnya dipimpin oleh Daeng Koro.

Faktor kedekatannya dengan Santoso dan kemampuannya dalam mengenal medan gerilya membuat ia diangkat menjadi pemimpin MIT.

Peneliti di bidang terorisme intelijen dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib, berpendapat Ali Kalora adalah sosok penunjuk arah dan jalan di pegunungan dan hutan Poso.

Ini karena Ali merupakan warga asli dari Desa Kalora, Poso, sehingga dirinya diyakini telah menguasai wilayah tempat tinggalnya.

Di sisi lain, Peneliti The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya, sempat membeberkan beberapa informasi tentang kelompok Ali Kalora.

Menurut informasi, kelompok Ali Kalora hanya terdiri dari 10 orang, namun mereka memiliki militansi dan daya survival tinggi.

Mereka mampu bertahan hidup di hutan dengan berburu ditambah sokongan logistik dari para simpatisan yang bermukim di bawah pegunungan Poso.

Baca juga: Ditangkap di Bandung, Terduga Teroris Berencana Ledakkan SPBU Pertamina, Simpatisan FPI Tahun 2019

Ali Kalora dikenal sadis.

Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa saat masih menjabat Komandan Jenderal Kopassus mengungkap sadisnya perbuatan yang dilakukan oleh kelompok Ali Kalora kepada masyarakat di Poso.

Ia mengungkap, kelompok Ali Kalora tak segan mengancam, menyandera, bahkan membunuh masyarakat di Poso.

Menurut Cantiasa mereka akan melakukan hal tersebut kepada masyarakat biasanya untuk mendapatkan logistik dan makanan.

"Masyarakat ini diancam dan sebagainya kalau tidak menyerahkan makanan atau logistik itu ya dibunuh di sana. Dan tidak main-main, mereka membunuh itu dengan sadis. Semua modusnya itu dengan potong leher," kata Cantiasa dalam tayangan Podcast Puspen TNI di kanal Youtube resmi Puspen TNI yang diunggah pada Senin (17/8/2020) lalu.

Cantiasa pun mengungkapkan pembunuhan Agus Balumba, seorang petani di Desa Sangginora, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora pada Agustus 2020 lalu.

Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Syafril Nursal memastikan pelaku pembunuhan terhadap Agus Balumba adalah kelompok bersenjata itu juga merampas sejumlah barang milik korban seperti jam tangan dan ponsel.

"Dari hasil kajian kita, dan barang bukti yang kita temukan, kejadian itu dilakukan oleh kelompok MIT. Dan perbuatan itu sangat keji, sadis dan kejam," kata Syafril di Mapolda Sulteng, Selasa (11/8/2020).

Syafril mengatakan, ada tujuh sampai 10 orang yang terlibat dalam pembunuhan petani tersebut.

Mereka adalah orang yang masuk dalam daftar pencarian orang oleh Satgas Operasi Tinombala.

Diduga Bunuh Satu Keluarga pada Tahun Lalu

Ilustrasi - Ali Kalora diduga jadi dalang di balik pembunuhan sekeluarga di Poso.
Ilustrasi - Ali Kalora diduga jadi dalang di balik pembunuhan sekeluarga di Poso. (TribunWow)

Pada 27 November 2020, satu keluarga di Desa Lemba Tonga, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah tewas dibunuh oleh orang yang tak dikenal.

Pelaku pembunuhan tersebut diperkirakan berjumlah delapan orang.

Kala itu, polisi menyebut pembunuhan itu diduga dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso pimpinan Ali Kalora.

"Terindikasi seperti itu ada kemiripan dari saksi-saksi yang melihat langsung saat kejadian yang kami konfirmasi dengan foto-foto (DPO MIT Poso) ada kemiripan. Terindikasi," kata Kapolres Sigi, AKBP Yoga Priyahutama dilansir oleh Kompas.com, Sabtu (28/11/2020).

Berdasarkan keterangan Sekretaris Desa Lemba Tongoa, Rifai, jumlah korban pembantaian tersebut berjumlah empat orang dan masih satu keluarga.

"Dari informasi saya dapatkan ada empat orang. Itu mertua, anak dan menantu," kata Rifai dilansir oleh Antara.

Rifai menyebut, pembunuhan ini membuat sejumlah orang di Desa Lembantongoa ketakutan.

Sementara itu, Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Abdul Rakhman Baso mengatakan pelaku pembunuhan satu keluarga di Sigi berjumlah delapan orang.

Kedelapan orang ini diketahui masuk dalam daftar pencarian orang kelompok teroris Mujahid Indonesia Timur (MIT).

Ia menjelaskan, kelompok orang tak dikenal itu mendatangi rumah warga untuk mengambil bahan makanan.

Baca juga: Hal Konyol Dilakukan Terduga Teroris, Jemur Bahan Peledak hingga ke Orang Pintar Agar Kebal

“Saat itu salah satu rumah didatangi oleh OTK kurang lebih 8 orang. Kemudian dari OTK ini memasuki rumah dari belakang kemudian mengambil beras kurang lebih 40 kilo. Setelah itu melakukan penganiayaan menggunakan senjata tajam,” ujar Irjen Abdul seperti dikutip dari Kompas.com.

Artikel lainnya terkait terorisme

(Kompas TV/ Gading Persada)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved