Mahasiswi Alami Pendarahan Parah di UGD Mataram Malah Digelandang Polisi, Fakta Pahit Terungkap

Ilustrasi Aborsi

"Beli obatnya dari online. Dikasi tahu sama temannya dari Sumbawa. Jenis obatnya sekarang masih kami dalami," kata Kadek.

Setelah mengkonsumsi obat tersebut, sang perempuan mengalami pendarahan.

Mereka pun pergi ke IGD rumah sakit. Saat itu AP tidak mengaku jika ia sudah mengkonsumsi obat aborsi sebelum pendarahan.

Tak lama setelah sampai di IGD, janin keluar dari rahim AP. Namun sayangnya sang janin meninggal dunia.

"Lalu beberapa saat kemudian janin keluar dari rahim AP. Petugas medis mencoba memberikan pertolongan. Tapi janin yang diperkirakan berusia enam bulan itu meninggal dunia," kata Kadek.

Petugas IGD yang curiga kemudian melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Tak lama kemudian polisi mengamankan sepasang kekasih tersebut. Mereka kemudian ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana penguguran janin (aborsi).

AP dan HS kemudian ditahan di Mapolresta Mataram.

"Kami mengamankan pasangan kekasih yang melakukan aborsi. Sekarang keduanya masih kami lakukan penahanan di Mapolresta Mataram," kata Kadek.

Atas perbuatannya, kedua sejoli itu terancam dijerat Pasal 77 Ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara.

Halaman
1234

Berita Populer