Derita Ribuan Guru Honorer, Gaji Tak Turun 5 Bulan Malah Disunat, Terpaksa Utang Sana-sini

Editor: Salma Fenty Irlanda
Ilustrasi guru honorer

Gaji itu sungguh berarti, untuk membantu kebutuhan selama pandemi. Memang guru menerapkan pembelajaran daring, tetapi guru honorer diwajibkan ke sekolah, setiap hari.

"Kami tetap wajib ke sekolah. Tentu ada biaya minyak, makan dan internet untuk mengajar selama pandemi. Belum lagi kebutuhan dapur," keluh SF.

Untuk menyambung hidup, kata dia harus bekerja serabutan, mulai dari menjadi kuli panggul, memanen sawit, hingga jualan musiman.

Meskipun serba sulit, SF tetap bertahan selama tujuh tahun menjadi guru honorer. Sebab, dia ingin mencerdaskan anak-anak dari kampungnya.

Hal senada juga disampaikan DA, guru honorer di Sarolangun. Pemotongan gaji di tengah pandemi ini, memang kontras dengan yang dilakukan pemerintah, untuk memulihkan ekonomi.

Pada masa pandemi, pemerintah menggelontorkan dana bantuan ke beberapa sektor. Sebaliknya guru honorer mengalami pemotongan dengan alasan tidak jelas.

"Semua guru honorer mengeluh. Karena gaji baru dibayar setelah lima bulan. Itu pun dibayar tiga bulan dulu, dua bulannya ditangguhkan sampai pembayaran berikutnya," kata DA menjelaskan.

Dengan adanya pemotongan, selama libur sekolah tidak bisa pulang kampung untuk bertemu keluarga. Lelaki yang tinggal di kontrakan ini, terpaksa berutang ke tetangga untuk mengirim uang ke kampung halaman.

Pengamat Kebijakan Publik dari UIN Sultan Thaha Saefuddin Jambi Bahren Nurdin berujar, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi harus transparan terhadap pemotongan gaji guru honorer.

Pemotongan gaji pada masa pandemi sudah melanggar hak guru untuk hidup layak. Tentu melukai hati banyak orang. Pemerintah harus bijak dalam menyikapi hajat hidup orang banyak.

Halaman
1234