Rela Berangkat Sejak 3 Mei, Pemudik Asal Jakarta Menuju Aceh Malah Dipaksa Balik Setibanya di Asahan

Pengendara asal Jakarta yang hendak mudik ke Aceh, terpaksa putar balik di Pos I Penyekatan Meranti, perbatasan Asahan-Batubara, Sumatera Utara, Kamis (6/5/2021).

TRIBUNMATARAM.COM - Petugas gabungan TNI/Polri yang melakukan razia mudik Lebaran 2021 tampaknya tak pandang bulu untuk menegakkan peraturan larangan mudik.

Seperti kisah pemudik asal Jakarta menuju Aceh ini.

Sudah berangkat sejak Senin (3/5/2021) lalu dari Jakarta menuju Aceh, ia dipaksa putar balik padahal sudah mencapai Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Memang aturan penyekatan mudik juga diberlakukan di wilayah Kabupaten Asahan, Sumatera Utara mulai Kamis (6/5/2021).

Terlihat petugas gabungan TNI/Polri mulai melakukan razia di wilayah perbatasan.

Saat razia berlangsung, ada sejumlah kendaraan yang diminta memutar balik.

Termasuk dua di antaranya pemudik asal Jakarta yang mengendarai dua mobil pribadi hendak menuju Aceh.

Baca juga: Pupus Harapan Agus Batal Lamar Kekasih Sebelum Lebaran, Terjaring Razia Mudik Dipaksa Putar Balik

Baca juga: Aturan Lengkap Larangan Mudik Lebaran 2021, Berlaku 6-17 Mei: Ada Pengecualian Bagi Orang-orang Ini

Namun, perjalanannya terpaksa terhenti di Asahan.

Polres Asahan memaksa pemudik tersebut untuk putar balik.

"Pak, kami dari Jakarta mau ke Aceh. Kami di perbatasan Riau lewat pak, masa di sini enggak," kata pria berkupluk kuning itu kepada petugas.

Namun, petugas memberikan penjelasan bahwa pemberlakukan penyekatan mudik dilakukan mulai hari ini.

"Kemarin tanggal 5 masih diizinkan masuk pak, namun ini sudah masuk tanggal 6 pak," kata petugas kepolisian.

Pengendara asal Jakarta yang hendak mudik ke Aceh, terpaksa putar balik di Pos I Penyekatan Meranti, perbatasan Asahan-Batubara, Sumatera Utara, Kamis (6/5/2021). (TRIBUN MEDAN/ALIF ALQADRI HARAHAP)

Pria itu mengaku berangkat dari Jakarta sejak Minggu (3/5/2021) untuk menghindari penyekatan.

"Kami dari Jakarta tanggal 3, memang target sampai itu tadi malam," kata pria berkacamata dan berkupluk kuning itu.

Pria tersebut sempat membandel dan tetap berkeras ingin melanjutkan perjalanan.

"Kalau balik ke Jakarta lagi pak, waduh, jauh pak," katanya.

Usai perdebatan, dua mobil putih dengan plat B 1433 VOO dan B 1534 VOD tersebut akhirnya memutar balik.

Namun tak beberapa lama, keduanya kembali mencoba peruntungan dengan melintasi lagi pos polisi.

Namun, upaya tersebut berhasil digagalkan petugas.

Petugas kembali memberhentikan kendaraan mereka.

"Kalian kok bandel kali, putar balik kalian," kata petugas kepolisian tersebut.

"Pak, kami sedikit lagi sampai Aceh, masa kami harus balik ke Jakarta," kata pemudik itu.

Namun, petugas kepolisian tetap menyuruh kedua mobil tersebut untuk putar balik.

Cerita Lain Guru Disuruh Turun dari Angkutan Umum 

Seorang guru yang datang dari Lubukpakam menuju Tebingtinggi terkena imbas pelarangan mudik, Kamis (6/5/2021). Guru tersebut mengaku dirinya hendak mengajar ke sekolah yang ada di Tebingtinggi. (TRIBUN MEDAN/M ANIL RASYID)

Di Kabupaten Deliserdang, petugas gabungan TNI/Polri juga mulai melakukan razia di wilayah perbatasan.

Saat razia berlangsung, ada sejumlah kendaraan yang diminta memutar balik.

Rata-rata, kendaraan yang diminta berputar balik itu datang dari arah Lubukpakam menuju Tebingtinggi.

Karena aturan ini berlaku menyeluruh, seorang guru yang hendak mengajar terkena imbasnya.

Kebetulan, guru perempuan bernama Sri Rahayu Ningsih itu naik angkutan umum dari arah Lubukpakam menuju Kota Tebing Tinggi.

Di perbatasan, persisnya di Pos Penyekatan Polresta Deliserdang yang ada di Jalinsum Desa Sukamandi Hilir, Kecamatan Pagarmerbau, Kabupaten Deliserdang, angkutan umum yang ditumpangi guru sekolah itu dihentikan.

Petugas memaksa angkutan umum itu putar balik.

Sontak, Sri Rahayu Ningsih yang berada di dalam angkutan terpaksa turun.

"Saya mau ke sekolah pak, sedikit lagi sampai loh padahal. Di depan situ sekolahnya," kata Sri pada polisi, Kamis (6/5/2021).

Dia mengatakan, dirinya ingin ke sekolah karena ada keperluan, bukan karena ingin mudik.

Karena angkotnya dipaksa putar balik, Sri pun terpaksa melanjutkan perjalanan naik becak motor (betor)

"Saya naik becak ajalah, orang saya mau kerja di SMP 2 dekat sini. Memang sudah tiga hari daring, cuma tiga hari kemudian harus ke sekolah ada data yang mau dikirim," kata Sri.

Dia mengatakan, memang sekolah tempatnya mengajar berada di Kota Tebingtinggi.

"Ini lah mau ke sekolah, mau urus surat agar bisa datang kerja ke sekolah agar enggak terhambat seperti ini," katanya, dikutip dari SerambiNews.com dengan judul Cerita Pemudik Berangkat 3 Mei Dari Jakarta Hendak ke Aceh, Tiba di Asahan Disuruh Putar Balik

Sementara itu, amatan www.tribun-medan.com di lokasi penyekatan, sejumlah orang yang diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan sebelumnya disuruh turun dari kendaraan untuk melakukan pengecekan suhu.

Tampak sebuah tong berisi air juga tersedia untuk setiap orang mencuci tangan setelah melakukan pengecekan suhu.

Beberapa personel TNI dan Polri terlihat menghentikan satu persatu kendaraan untuk ditanyai keperluannya apa.

(Tribun-Medan.com/ Alif Al Qadri Harahap)

#mudik #raziamudik