Pria di Mataram Meninggal Saat Isoman: Sore Sempat Hubungi Keluarga, Ditemukan Wafat Selepas Isya

Editor: Irsan Yamananda
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi - Pria di Mataram, NTB meninggal dunia saat isolasi mandiri.

Menurutnya, pasien Covid-19 yang meninggal saat isolasi mandiri bukan warganya.

Selain itu, orang tersebut tidak melapor ke Satgas.

"Jadi yang meninggal itu orang tuanya, bukan orang Bintara," ujar Sudarso saat dihubungi, Kamis (8/7/2021).

• 5 Cara Cepat Sembuh Covid-19, Lakukan Hal Ini Selama Isolasi Mandiri, Masker Dobel, Kamar Terpisah

Sudarsono berujar, pihaknya tidak mengetahui riwayat penyakit apa saja yang diderita warga tersebut.

"Kita enggak tahu riwayatnya, pada saat isoman kan harusnya kalau sakit lapor dulu ke Satgas setempat ada RT ada RW," ujar dia.

Selain itu, Sudarsono mengungkapkan bahwa anak dan menantunya meninggal dunia di RSUD Kota Bekasi karena Covid 19 setelah sebelumnya melakukan isoman dan kondisi memburuk.

"Dua-duanya meninggal di RSUD, yang satu ini meninggal di rumah dia datang bukan warga Bintara," ujar dia seperti dikutip dari Kompas.com dengan judul "Isolasi Mandiri Tanpa Lapor Satgas, Seorang Warga Meninggal Dunia di Bekasi".

Kasus Serupa

Kakak beradik pasien covid-19 di Tasikmalaya, Jawa Barat meninggal dunia.

Keduanya menghembuskan napas terakhirnya saat menjalani isolasi mandiri.

Mereka merupakan warga Kelurahan Sirnagalih, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.

Kakak beradik itu meninggal dunia pada hari Sabtu (3/7/2021).

Mereka diketahui berinisial A (51) dan Y (45).

Keduanya adalah warga Kampung Cipapagan, Kelurahan Sirnagalih.

• Bukannya Ikuti PPKM Darurat Jawa Bali, Lurah di Depok Malah Adakan Hajatan, Video Orang Joget Viral

• Warga di Riau Datangi RS dan Ambil Paksa Jenazah, Tak Terima Korban Kecelakaan Dinyatakan Covid-19

Ilustrasi - Kakak beradik di Tasikmalaya meninggal saat isolasi mandiri Covid-19. (Kompas.com)

Banyak yang menduga keduanya meninggal dunia karena diduga kurang perawatan dan perhatian pemerintah.

Bahkan, peristiwa itu sampai mengundang perhatian anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Rahmat Soegandar.

"Kejadian seperti ini sebenarnya tidak boleh terjadi.

Penanganan Covid-19 kan jelas ada satgasnya," kata Rahmat.

• Ingin Warga Sadar Prokes Covid-19, Walkot Surabaya: Pelanggar Dibawa ke Makam & Menginap di Liponsos

Harusnya, begitu seseorang diketahui positif Covid-19 langsung mendapat penanganan satgas dalam hal ini Dinas Kesehatan.

"Termasuk juga yang melakukan isolasi mandiri.

Tetap harus mendapat perhatian.

Sehingga tidak ada pasien yang terabaikan," kata Rahmat seperti dikutip dari TribunJabar.id dengan judul Kakak Adik Pasien Covid-19 di Kota Tasik Meninggal Diduga Kurang Perawatan, Ini Kata Anggota DPRD.

Seperti diketahui, saat kondisi A dan Y menurun warga melaporkannya ke kelurahan.

Namun tidak ada tanggapan.

A dan Y akhirnya meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan.

Warga kembali lapor ke kelurahan dan lagi-lagi tidak ada respons.

Ketua RW setempat akhirnya menelepon seorang anggota dewan.

Akhirnya kejadian itu ditangani BPBD Kota dengan mengevakuasi jenazah dan membawa lima anggota keluarga lainnya yang juga positif Covid-19 ke RSU.

Rahmat menandaskan kejadian mengenaskan yang menimpa kakak-beradik tidak boleh terulang lagi.

"Saya tidak tahu di mana putusnya koordinasi.

Apa kelurahan memang tidak respons.

Apakah kelurahan sudah lapor ke Puskesmas tapi tak direspons.

Yang jelas kejadian seperti ini jangan sampai terulang," kata Rahmat.

Karenanya, Rahmat mengharapkan adanya koordinasi dan komunikasi yang baik antar tingkatan satgas, mulai dari kota, kecamatan, kelurahan hingga RW.

"Selain itu satgas kota, kecamatan maupun kelurahan sering-sering lah memantau langsung ke lapangan," ujar Rahmat.

Warga DIY Kabur dari RS dan Ditemukan Tewas di Selokan

Seorang warga Gunungkidul, Yogyakarta ditemukan tewas setelah kabur dari rumah sakit dan tahu dirinya positif Covid-19.

Warga tersebut bernama Agus Sumarno (39).

Ia merupakan warga Kapanewon Playen, Gunungkidul, Yogyakarta.

Agus ditemukan tewas di selokan sedalam 3 meter, pada hari Sabtu, 3 Juli 2021.

Dirinya merupakan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Agus diketahui kabur dari ruang perawatan.

Saat ditemukan tewas di selokan, kateter masih terpasang di tubuh Agus.

• Covid-19 Melonjak, Suku Baduy Masih Nol Kasus Virus Corona dengan Berpegang pada 2 Rahasia Ini

• Video Viral Keluarga Rebut Paksa Jenazah Positif Covid-19 di Bulukumba, Usir Petugas, Buka Peti Mati

Setelah diselidiki, Agus ternyata merupakan pasien RSUD Wonosari.

Hal itu dibenarkan oleh Direktur RSUD Wonosari Heru Sulistyowati.

Menurutnya, Agus masuk ICU pada Jumat (2/7/2021) malam.

Hasil rapid antigen Agus ketika itu positif.

• Bupati PPU Tak Mau Terlibat Penanganan Covid, Sebut Hanya Timbulkan Masalah Hukum: Mohon Diviralkan

“Iya benar, yang bersangkitan hasil rapid antigen positif,” kata Heru.

Ia diketahui kabur hingga ditemukan tewas di selokan.

Jenazah Agus ditemukan pertama kali oleh seorang pekerja yang akan menghidupkan mesin genset.

Lalu ada seorang pengendara motor yang melintas dan memberitahu pekerja jika ada mayat dalam selokan.

Saksi mata kemudian melaporkan temuan tersebut ke petugas keamanan.

Pihak kepolisian, TNI, dan PMI langsung melakukan evakuasi, dan membawa ke ruang jenazah.

Dari kateter yang terpasang, diketahui Agus adalah pasien IGD Wonosari.

Kapolsek Wonosari AKBP Mugiman mengatakan dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan tanda penganiayaan di tubuh korban.

Diperkirakan, Agus sudah meninggal 3 hingga 5 jam sebelum ditemukan seperti dikutip dari Kompas.com dengan judul "Kabur dari RS, Pasien Covid-19 di Gunungkidul Ditemukan Tewas di Selokan, Ini Kronologinya".

“Dari pemeriksaan dokter tidak ditemukan tanda penganiayaan, dan korban telah dilakukan swab antigen dan dinyatakan reaktif,” kata Mugiman saat dihubungi wartawan, Sabtu.

Berita Covid-19 lainnya

(TribunJabar/ Firman Suryaman) (Kompas/ Djati Waluyo dan Kontributor Kompas TV Mataram, Fitri Rachmawati)