Misteri Hilangnya Balita 17 Bulan Sepulangnya dari Rumah Nenek, Polisi Masih Bingung Penyebabnya
Seorang balita berusia 17 bulan hilang setelah pulang dari rumah neneknya, polisi masih belum tahu penyebabnya.
TRIBUNMATARAM.COM - Seorang balita berusia 17 bulan hilang setelah pulang dari rumah neneknya, polisi masih belum tahu penyebabnya.
Seorang balita laki-laki bernama Bagus Setia Ramadhan hilang dan belum ditemukan hingga kini.
Namun, hingga kini polisi belum mengetahui penyebab anak pasangan dari Danang Andrianto dan Rustin Cahyani warga Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur tersebut.
Baca juga: Akhir Pilu Balita Akhmad, Terseret Ombak bersama 6 Keluarganya, Ditemukan Meninggal 5 Hari Kemudian
Baca juga: Terekam CCTV Seorang Nenek Buka Masker dan Sengaja Batuk di Depan Balita, Buat Bayi Alami Demam
Kapolsek Bululawang Kompol Pujiono mengatakan, belum diketahui penyebab hilangnya balita tersebut. Apakah diculik, atau hanyut dalam saluran air. Pasalnya, saksi di lapangan sangat minim.
Saat ini, lanjut Pujiono, pihaknya masih dilapangan.
"Sekarang anggota masih di lapangan mengumpulkan informasi," kata Pujiono melalui sambungan telepon, Sabtu (17/10/2020).
Kata Pujiono, tidak jauh dari rumah itu terdapat saluran air. Tapi, belum ada jejak jika balita itu hanyut dalam aliran air tersebut.
"Sungai juga dekat tapi tidak ada jejak," katanya.
Kronologi kejadian
Diceritakan Pujiono, balita itu dilaporkan hilang ke pihaknya pada Kamis (15/10/2020) sore.
Awalnya balita itu ke rumah neneknya, Kamis sekitar pukul 13.30 WIB, jaraknya hanya 1,5 meter dan saling berhadap-hadapan.
"Bagus itu ke rumah neneknya. Neneknya pada saat itu sedang apa gitu, Bagus itu balik lagi ke rumah ibunya," ujarnya.
Namun, balita itu tidak kembali ke rumahnya, ibu balita lalu mencari anaknya tapi tidak kunjung ditemukan.
"Sekitar pukul 15.00 WIB lapor ke Polsek. Laporan ini dicek, anggota ke TKP dan sebagainya nyari anak itu dibantu warga," katanya.
Sebelumnya diberitakan, seorang balita bernama Bagus Setia Ramadhan, balita berusia 17 bulan, anak warga Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang dilaporkan hilang.
Bayi itu dilaporkan hilang sejak Kamis (15/10/2020) setelah pulang dari rumah neneknya.
Sampai saat ini, tim gabungan masih mencari keberadaan anak dari pasangan Danang Andrianto dan Rustin Cahyani ini.
Kasus Serupa, Balita Hilang Ternyata Hanyut
Hasil autopsi balita tanpa kepala di Samarinda tak buktikan adanya pembunuhan, ini penyebabnya meninggal dunia.
YAG terbukti meninggal dunia bukan karena dibunuh.
Kendati demikian, kedua guru PAUD YAG tetap harus menjalani hukuman karena kelalaian.
Orangtua YAG (4), Bambang Sulistyo dan Melisari mengaku menerima hasil otopsi anaknya oleh ahli forensik Mabes Polri.
Bambang mengatakan sudah janji sebelumnya akan menerima apapun hasil otopsi ahli forensik Mabes Polri, Kombes Pol Dr dr Sumy Hastry Purwanti.
• Balita Tewas Tanpa Kepala di Samarinda, Dokter Forensik Tak Bisa Ungkap Penyebab Kematian Bocah Ini
• POPULER Kasus Jasad Balita Tanpa Kepala Mulai Terkuak Penyebabnya, 2 Pengasuh Jadi Tersangka
"Hari ini kami mendengar jawaban yang selama ini kami cari-cari. Kami terima semua hasilnya dan merasa lega," kata Bambang saat menghadiri keterangan pers di Mapolresta Samarinda, Kamis (27/2/2020).
Tak lupa Bambang juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah memberi dukungan untuk mengungkap kematian buah hatinya.
Senada dengan suaminya, Melisari juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah memberikan simpati atas kasus anaknya dan kini terungkap penyebab kematian.
"Kami menerima hasil otopsi. Apalagi ini ditangani ahli forensik terbaik," kata dia.
Kendati demikian, mata Melisari berkaca-kaca. Dia terlihat beberapa kali memeluk dr Hastry.
"Semoga anak kami (Yusuf) bahagia di surga," harap Melisari.
Kuasa Hukum keluarga Yusuf, Rubadi, menambahkan seluruh pihak keluarga sudah menerima hasil otopsi.

Selanjutnya, tugas mereka mengawal persidangan dua tersangka pengasuh PAUD Jannatul Athfaal oleh polisi.
Keduanya, Tri Supramayanti (52) dan Marlina (26) dengan Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan nyawa orang meninggal dengan ancaman lima tahun penjara.
"Karena semua sudah terungkap penyebab kematian. Jadi tinggal kawal di persidangan nanti," kata dia.
Diberitakan sebelumnya, ahli forensik dari Mabes Polri, Kombes Dr dr Sumy Hastry Purwanti menyebut balita empat tahun (Yusuf) yang ditemukan tanpa kepala di parit Jalan Antasari, Samarinda, Minggu (8/12/2020) lalu tak ada indikasi kekerasan.
Seluruh tulang diperiksa dari tulang leher, tulang dada, tulang iga kanan dan kiri serta tulang belikat, panggul, dua tulang paha dan dua tungkai tulang bawah.
Semuanya utuh, tidak ada kekerasan.
Hastry menerangkan hilangnya beberapa organ tubuh korban akibat pembusukan alami selama 16 hari dalam air.
Termasuk membuat kepala Yusuf mudah terlepas.
Diketahui, Yusuf menghilang saat dititipkan di PAUD Jannatul Athfaal Jalan Wahab Syahranie, Jumat (22/11/2019).
Dua pekan kemudian, Minggu (8/12/2020) dia ditemukan tewas tanpa kepala di parit Jalan Pengeran Antasari, Gang 3, RT 30 Kelurahan Teluk Lerong, Kecamatan Samarinda Ulu.
Yusuf disimpulkan jatuh ke parit dan terseret arus banjir.
(Kontributor Malang, Andi Hartik/Kontributor Samarinda, Zakarias Demon Daton)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Polisi Belum Mengetahui Penyebab Bayi 17 Bulan Hilang Setelah ke Rumah Neneknya" dan "Hasil Otopsi Nyatakan Balita Tanpa Kepala Bukan Korban Pembunuhan, Orangtua Menerima"
BACA JUGA Tribunnewsmaker.com dengan judul Hilangnya Balita 17 Bulan Sepulangnya dari Rumah Nenek Masih Misteri, Polisi Bingung Penyebabnya