Ikhtiar Mengurai Benang Kusut Stunting Dengan Pendekatan Agama dan Budaya

Begitu seriusnya masalah stunting di Kabupaten Lombok Barat, NTB, untuk mencarikan solusinya pun perlu pendekatan agama dan budaya.

Dokumentasi Budi Santosa
Suasana pengajian majlis ta'lim, dakwah pencegahan stunting 

Oleh: Budi Santosa 

Ibarat meluruskan kembali, seuntai benang yang terlanjur kusut dan berkelindan, yang sulit ditemukan ujung dan pangkalnya, kira-kira demikianlah permasalahan stunting yang dihadapi Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat saat ini.

Ia (stunting) muncul dan menjadi ancaman serius bagi kualitas SDM di masa-masa yang akan datang.  Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dan stimulasi psikososial serta paparan infeksi berulang, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Stunting juga mengancam perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa dewasanya. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi NTB, angka prevalensi stunting di Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2018 sebesar 33,6%. Angka ini bertambah pada tahun 2019 hingga mencapai 36,3% namun menurun secara bertahap setiap tahunnya, dan pada tahun 2021 menjadi 27,9%.

Ilustrasi stunting, masalah serius pertumbuhan anak yang tak normal
Ilustrasi stunting, masalah serius pertumbuhan anak yang tak normal (Kemenkes)

Angka tersebut tentu cukup menggembirakan, meskipun masih lebih tinggi dari angka prevalensi stunting di provinsi NTB saat ini yaitu sebesar 23,51%. Ketua tim konvergensi percepatan pencegahan stunting Kabupaten Lombok Barat, yang juga menjabat sebagai Asisten Daerah 2 Kabupaten Lombok Barat, Rusditah, mengatakan bahwa upaya mengurai permasalahan stunting dan strategi menurunkan angkanya di Kabupaten Lombok Barat tidak bisa hanya dilakukan melalui pada aspek kesehatan saja.

Ada sejumlah aspek lain yang juga cukup menentukan, misalnya aspek sosial dan budaya. “Perilaku hidup dan cara pandang masyarakat yang mendukung maupun kurang mendukung terhadap pencegahan stunting, boleh jadi berasal dari kesalahpahaman masyarakat terhadap budaya lokal setempat, misalnya larangan mengkonsumsi udang bagi ibu hamil nanti anaknya bisa bongkok dan sebagainya”, ujarnya dalam acara rembug stunting Kabupaten Lombok Barat yang dilaksanakan tanggal 29 September 2021. 

Rusditah menjelaskan, “Sebagian masyarakat ada yang memandang bahwa agama tidak terkait dengan urusan stunting. Padahal dari sisi agama disebutkan bahwa tidak dibenarkan meninggalkan generasi (anak keturunan) yang lemah, agama menganjurkan memakan makanan yang halal, baik lagi bergizi, kebersihan dan kesehatan adalah bagian dari keimanan.

Namun demikian, tidak sedikit perilaku-perilaku budaya lokal yang mendukung terhadap pencegahan stunting, begitu juga juga dengan praktik-praktik keagamaan di tengah masyarakat. “Pulau Lombok dikenal dengan nama pulau seribu masjid, ini menunjukkan bahwa kepatuhan masyarakatnya terhadap nilai-nilai agama dan tokoh-tokoh agama sangat tinggi.

Begitu juga dengan budaya suku Sasak yang sangat kuat mengakar, juga menjadi modal utama yang dapat dimanfaatkan dengan baik untuk dijadikan instrument mengkampanyekan pencegahan stunting di Kabupaten Lombok Barat”, imbuhnya.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kabupaten Lombok Barat, Mutmainnah menegaskan, ketika para tokoh agama dan tokoh adat yang menyampaikan pesan bahwa mencegah stunting itu penting, dan juga merupakan bagian dari urusan agama dan budaya, maka diharapkan masyarakat akan lebih mendengar dan melihat pesan-pesan tersebut karena keluar dari para tokoh agama dan tokoh budaya yang  notabene petuah dan nasehat tokoh-tokoh tersebut sangat dihormati dan penting untuk dijalankan.

“Karena itu pendekatan kolaboratif, komprehensif dan terintegrasi saat ini dipercaya sebagai pendekatan yang ampuh dalam penanganan stunting. Oleh karenanya mengajak keterlibatan semua pihak, serta intervensi pemerintah, tokoh agama, budaya, NGO dan masyarakat umum, untuk peduli terhadap penanganan stunting, adalah menjadi sebuah keharusan”, paparnya.

Sejalan dengan itu, Direktur Eksekutif Yayasan Cipta, Dini Haryati, mengatakan “Yayasan Cipta melalui dukungan penuh dari Tanoto Foundation telah meluncurkan program penguatan dan pendampingan implementasi strategi komunikasi perubahan perilaku percepatan pencegahan stunting di Kabupaten Lombok Barat”. “Salah satu aksi nyata dalam program ini adalah melakukan pelatihan terhadap sepuluh orang tokoh agama (Tuan Guru sebutan untuk Kyai Haji di Lombok) dan sepuluh orang tokoh adat, atau yang lebih dikenal dengan nama da’i kesehatan dan todat kesehatan.

Para da’i dan todat kesehatan ini dilatih untuk meningkatkan kapasitas pengetahuannya tentang stunting, serta keterampilan komunikasi perubahan perilaku”, tuturnya. Dini Haryati menambahkan, upaya ini tidak berhenti sampai proses pelatihan saja. Para da’i dan todat kesehatan yang telah dilatih melakukan praktik lapangan dakwah atau kampanye pencegahan stunting sesuai dengan bidang dan kapasitas mereka masing-masing. “Praktik dakwah kesehatan yang dilakukan oleh da’i dan todat kesehatan ini, dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi yang telah ada di tengah-tengah masyarakat semisal, majlis ta’lim, khutbah jumat, dan acara-acara adat lainnya.

Terdapat juga saluran komunikasi online seperti YouTube, website, dan sosial media lainnya”, jelasnya. Salah seorang peserta pelatihan, Moh. Sayuti, yang berasal dari Kecamatan Lingsar, mengaku materi-materi pelatihan ini sangat berguna bagi kami dalam ikut mengkampanyekan pencegahan stunting di masyarakat. “Kami belum pernah mendapat pelatihan dengan metode seperti ini sebelumnya, yaitu setelah mengikuti pelatihan, kami melakukan praktik lapangan, menterjemahkan pengetahuan dan keterampilan yang telah kami peroleh selama pelatihan secara actual di tengah-tengah masyarakat, tentu metode ini sangat baik dan aplikatif”, ujarnya.

Suasana pengajian majlis ta'lim, dakwah pencegahan stunting
Suasana pengajian majlis ta'lim, dakwah pencegahan stunting (Dokumentasi Budi Santosa)

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, Hj. Ni Made Ambaryati, mengatakan “Ikhtiar pencegahan stunting dengan keterlibatan NGO sangat membantu daerah kami, apalagi program semacam ini tergolong baru, belum pernah dilakukan sebelumnya di Kabupaten lain di Provinsi NTB.

“Jumlah tenaga da’i dan todat kesehatan kita saat ini berjumlah 60 orang dan yang sudah terlatih hanya berjumlah 20 orang, sementara harapan kami, satu desa terdapat satu da’i dan tokoh adat terlatih, sementara jumlah desa di Kabupaten Lombok Barat sebanyak 119 desa”, tuturnya.

Dengan situasi ini Kabupaten Lombok Barat masih sangat kekurangan da’i dan tokoh adat terlatih untuk dapat membantu mengurai benang kusut stunting di Kabupaten Lombok Barat untuk masa-masa yang akan datang. Namun demikian, di waktu mendatang Kabupaten Lombok Barat akan berusaha melanjutkan melatih da’i dan tokoh adat kesehatan agar secara kuantitas dan kualitas dapat tercapai.

* Budi Santosa, District Officer Yayasan Cipta, Kabupaten Lombok Barat

Sumber: Tribun Mataram
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved