Breaking News:

Tak Ingin Buang Makanan, Mahasiswa Meregang Nyawa Setelah Makan Spageti Sisa, Ini Penjelasannya

Seorang mahasiswa tewas setelah makan makanan sisa yang diambilnya dari kulkas. Diketahui korban berinisial AJ (20) itu tewas setelah makan spageti.

Editor: Asytari Fauziah
Tribunnews.com
Ilustrasi jenazah 

2. Bayam

Bayam
Bayam (Tribun Wow)

Bayam adalah salah satu sayuran hijau yang kaya zat besi.

Sebaiknya sayuran ini tidak dipanaskan kembali setelah dimasak.

Karena kandungan nitrat di dalamnya akan berubah menjadi racun jika dipanaskan ulang, dan melepaskan zat karsinogenik yang bersifat kanker.

3. Kentang

Kentang
Kentang (Yelena Yemchuk)

Kentang kaya akan kalium, vitamin C dan vitamin B6.

Saat dipanaskan kembali, ada kemungkinan peningkatan bakteri dalam kentang.

4. Daging olahan

daging
daging (tribunnews)

Daging olahan mengandung pengawet agar bisa disimpan lebih lama.

Contoh daging olahan adalah sosis.

Memanaskannya kembali akan memperburuk kesehatan, karena akan terjadi perubahan kimiawi saat proses pemanasan berulang. (Sosok.Id/Dwi Nur Mashitoh)

Artikel ini telah tayang di Sosok.id dengan judul Peringatan Bagi yang Suka Menghangatkan Makanan Sisa, Seorang Mahasiwa Tewas Usai Mengonsumsi Makanan Sisa yang Dipanaskan Kembali, Begini Penjelasannya

Korban Kopi Cleng masih dirawat intensif di ruang Sakura, RSUD Sumedang, Rabu (18/9/2019).
Korban Kopi Cleng masih dirawat intensif di ruang Sakura, RSUD Sumedang, Rabu (18/9/2019). ((KOMPAS.COM/AAM AMINULLAH))

Fakta-fakta Kopi Cleng Ilegal Sebabkan 10 Pria di Sumedang Keracunan, Diyakini Bisa Bikin Perkasa

TRIBUNMATARAM.COM - Fakta-fakta Kopi Cleng, diyakini bisa buat perkasa ternyata ilegal dan sebabkan 10 warga di Sumedang keracunan.

10 warga di Sumedang mengalami gejala kelumpuhan dan tak sadarkan diri setelah menenggak kopi Cleng.

Berikut fakta-fakta kopi Cleng yang ternyata telah dicabut izin edarnya sejak tahun 2011 silam.

Iin (25) panik saat tahu calon suaminya tak sadarkan diri dan susah berdiri pada Senin (16/9/2019) malam sekitar pukul 21.00 WIB. Ia kemudian membawa calon suaminya ke RSUD Sumedang.

Iin mengatakan dua jam sebelum tidak sadarkan diri,calon suaminya mengkonsumsi kopi bermerek Kopi Cleng.

 Murid Alami Patah Kaki, Viral Guru di Morowali Rela Jemput & Gendong Agar Tak Terlambat Sekolah

 

"Iya kayak yang hilang kesadaran gitu. Terus enggak bisa bangun kayak yang lumpuh gitu," ujarnya kepada Kompas.com di IGD RSUD Sumedang, Selasa (17/9/2019).

Redi Suryadipraja (51), salah seorang korban asal Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang mengaku setelah minum Kopi Cleng, dia merasakan pusing dan lemas.

"Beberapa jam setelah minum Kopi Cleng, saya pusing lemas, jalan sempoyongan. Terus enggak sadarkan diri," katanya.

Data yang dihimpun Kompas.com, di IGD RSUD Sumedang sedikitnya ada 10 warga yang masih dirawat hingga Selasa malam.

"Jumlahnya belasan, sebagian sudah pulang. (Korban) sudah datang dari beberapa hari lalu," ujarnya Imam Budiman, Humas RSUD Sumedang.

Diyakini meningkatkan stamina dan keperkasaan

.
.(Getty Images/iStockphoto)

Dilansir dari Tribunnews.com, Dedi (40) pemilik warung di Cimanggung mengatakan bahwa mengkonsumsi Kopi Cleng diyakini bisa meningkatkan stamina dan keperkasaan.

Dedi sendiri sudah menjual Kopi Cleng sejak setahun terakhir. Ia menyeduh Kopi Cleng di kiosnya yang berada di Jalan Raya Bandung-Garut.

"Dijualnya Rp 15.000 per gelas. Yang belinya kebanyakan pria, sejauh ini tidak ada masalah," kata dia.

Selama berjualan, Dedi mengaku baru kali ini mendapat kabar ada warga di Sumedang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi kopi penambah stamina.

"Barangnya diantar sama sales, katanya diproduksi di Bandung tapi saya enggak tahu dimana di produksinya," kata Dedi.

Sementara tu staf Bagian Seksi Inspeksi BPOM Bandung Wenni mengatakan, kandungan dalam kopi tersebut bisa menyebabkan kematian jika dikonsumsi secara terus menerus.

Kopi penambah stamina itu diduga mengandung sildenafil dan tadalafil yang dapat merusak sistem saraf pusat.

Wenni memastikan bahwa Kopi Cleng ilegal.

"Kopi bermerek Kopi Cleng dan Kopi Jantan ini kami pastikan ilegal. Semua izinnya dipalsukan, ini dapat dilihat dari nomor registernya, memang palsu. Kopi penambah stamina ini diduga mengandul sildenafil dan tadafil," ujarnya.

Untuk memastikan keaslian produk, warga dapat mengeceknya langsung melalui situs resmi BPOM.

"Warga diharapkan lebih berhati-hati. Jika ingin mengecek keaslian dan izin suatu produk dapat langsung mengakses situs BPOM," katanya.

Dilarang beredar sejak tahun 2011

BPOM Bandung bersama Satresnarkoba Polres Sumedang saat sidak sejumlah toko jamu di wilayah Sumedang kota, Rabu (18/9/2019). AAM AMINULLAH/KOMPAS.com
BPOM Bandung bersama Satresnarkoba Polres Sumedang saat sidak sejumlah toko jamu di wilayah Sumedang kota, Rabu (18/9/2019). AAM AMINULLAH/KOMPAS.com(KOMPAS.COM/AAM AMINULLAH)

Kasatnarkoba Polres Sumedang AKP Idan Wahyudin mengatakan, Kopi Cleng dan Kopi Jantan, telah dilarang peredarannya sejak 2011 lalu.

"Pengakuan pedagang, itu mereka terima produknya dari sales. Salesnya pun tidak jelas identitasnya. Sebelum menerima produk itu, penjual mengaku menerima kepastian bahwa produk tersebut aman dari sales tersebut. Jadi ini beredar ilegal dan diedarkan oleh sales," ujarnya, Rabu (18/9/2019).

Untuk memastikan Kopi Cleng dan Kopi Jantan tidak beredar lagi, BPOM Bandung, Polres Sumedang, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat melakukan sidak ke sejumlah toko jamu, Rabu.

Namun dari tiga toko jamu yang didatangi, tidak ditemukan produk kopi tersebut.

Saat ini pihak kepolisian masih menelusuri sales penjual Kopi Cleng dan Kopi Jantan tersebut.

"Kami belum bisa menjamin produk itu tidak ada lagi di pasaran. Untuk itu kami akan terus melakukan pengecekan, khususnya ke toko-toko jamu di wilayah Sumedang. Tapi kami imbau kepada penjual, bila masih ada agar tidak menjualnya," tuturnya.

SUMBER: KOMPAS.com (Aam Aminullah)

Sumber : https://regional.kompas.com/read/2019/09/19/12120081/kisah-di-balik-keracunan-kopi-ceng-niat-ingin-perkasa-hingga-dilarang?page=all

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved