Virus Corona

POPULER Penyebab Pasien Covid-19 Bisa Alami Gejala Tersembunyi Happy Hypoxia, Bisa Berujung Kematian

Kondisi happy hypoxia pada pengidap Covid-19 yang ramai diperbincangkan baru-baru ini tak bisa diabaikan begitu saja.

Editor: Asytari Fauziah
Kompas.com
Ilustrasi rasakan gejala virus corona 

Frekuensi napas pada kondisi normal bisa terjadi 15-20 per menit. Sementara, pada kondisi gangguan sesak napas, frekuensi bernapas bisa meningkat yaitu sekitar 30-50 per menit.

"Itu adalah bentuk respons tubuh, bagaimana tubuh meningkatkan jumlah asupan oksigen, tapi itu tidak terjadi pada kasus Covid-19," kata dia.

Oleh sebab itu, Agus menuturkan dugaan sementara penyebab terjadinya silent hipoksemia atau happy hypoxia pada pasien Covid-19 adalah pengaruh dari virus SARS-CoV-2 itu sendiri.

"Jadi sementara ini, disinyalir virus SARS-CoV-2 ini mengganggu reseptor yang ada di dalam mekanisme saraf tersebut," kata Agus.

Penjelasan Dokter

Dijelaskan Dokter spesialis paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Erlina Burhan, menjelaskan mengenai salah satu gejala Covid-19 yang baru-baru ini diidentifikasi, yaitu happy hypoxia.

 Peringatkan Gejala Happy Hypoxia, Ganjar Pranowo: Masyarakat Mesti Tahu, Tidak Tiba-tiba Meninggal

 POPULER Pasien Covid-19 Marak Alami Happy Hypoxia, Tampak Normal, Ternyata Paru-paru Rusak Parah

Erlina mengatakan, happy hypoxia merupakan suatu kondisi seseorang yang kekurangan oksigen.

Namun, penderita tak mengalami sesak napas atau gejala lain, sehingga orang tersebut merasa baik-baik saja.

"Pasiennya tidak sesak, tidak kelihatan sesak jadi katanya happy-happy saja, nonton TV, masih nge-Zoom, tapi sebetulnya sudah terjadi hypoxia atau kekurangan oksigen," kata Erlina dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (4/9/2020).

Erlina mengatakan, jika seseorang mengalami kekurangan oksigen, biasanya otak akan memerintahkan tubuh untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dengan bernapas lebih cepat.

Maka, setelah berolahraga atau berkegiatan berat, biasanya seseorang bernapas dengan tersengal-sengal.

Hal itu tidak terjadi pada penderita Covid-19 yang mengalami happy hypoxia.

Menurut Erlina, infeksi virus corona yang luas akan menghambat sinyal tubuh untuk memberi tahu otak bahwa telah terjadi kekurangan oksigen, sehingga penderita happy hypoxia terlihat bernapas seperti biasa.

"Pada infeksi virus Covid ini sinyal tersebut dihambat oleh inflamasi maka tidak ada sinyal ke otak," ujar Erlina.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved