Breaking News:

Wajahnya Disebut Mirip Pencuri Ayam yang Beraksi Tahun 2020, Pria Usia 55 Tahun Nyaris Dihajar Warga

Seorang pria berusia 55 tahun di Sumbawa nyaris babak belur dihajar warga karena wajahnya dianggap mirip pencuri ayam.

Editor: Irsan Yamananda
TribunJakarta/ Istimewa
Ilustrasi 

Lalu, pelaku datang sambil mengatakan kenapa kau panen sawit ini.

Tersangka HE langsung mencekik leher korban dan menyuruh adiknya JO untuk mengambil handphone yang sedang dipegang korban," sebut Harris.

Selanjutnya, JO mengambil handphone milik korban dan membuangnya ke Sungai Kampar yang tidak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP) seperti dikutip dari Kompas.com dengan judul "Aniaya Istri karena Panen Sawit di Riau, Sang Suami Akhirnya Ditangkap Polisi".

Tak sampai disitu, adik ipar pelaku juga mencekik leher korban dengan tangan kanannya sekuat tenaga dan mendorong korban hingga terjatuh ke tanah lalu menindig tubuh korban dan mencekiknya.

Atas kejadian itu, korban melapor ke Polsek Tambang.

Polisi pun bergerak meminta keterangan saksi-saksi dan mengumpulkan bukti.

Selanjutnya, anggota Unit Reskrim Polsek Tambang melakukan penangkapan lebih dari sepekan setelah menerima laporan.

Diberitakan sebelumnya, seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial I (39) dianiaya oleh suaminya berinisial HE.

Ia mengaku dicekik oleh suaminya. Peristiwa itu terjadi di kebun sawit milik korban di Desa Terantang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau.

Kepada Kompas.com, I bercerita kalau dirinya diduga dianiaya sang suami pada Minggu (30/5/2021), sekitar pukul 17.45 WIB.

"Saya waktu itu sedang panen sawit terus dia datang ke kebun sama saudaranya empat orang dan satu anak kami yang paling tua. Dia marah ke saya kenapa sawit masih di panen, padahal kebun ini milik orangtua saya," ujar I, Sabtu (5/6/2021).

Disaat suaminya sedang marah, korban memvideokannya.

Namun, terduga pelaku menyuruh adiknya untuk merampas handphone.

Terduga pelaku memegang korban, sedangkan adiknya mengambil paksa handphone lalu dibuang ke Sungai Kampar.

"Saya berusaha merebut handphone, tapi saya dipegang sama dia (suami).

Leher saya dicekiknya.

Adiknya juga ikut mencekik dan menindih tubuh saya hingga saya susah bernapas," akui I.

Di lokasi kejadian, sebut dia, ada saksi yang melihat kejadian itu, yaitu dua orang tukang panen sawit dan satu wanita teman korban.

"Saya minta tolong sama tukang panen, tapi dikejar (sama suami) lalu ditamparnya.

Tukang panen pun pergi dari lokasi.

Sedangkan saya sudah mau mati ditindih adiknya karena susah bernapas," kata I.

I menjelaskan, statusnya dengan terduga pelaku sudah bercerai secara agama sejak 7 Desember 2020 lalu.

Sedangkan cerai secara hukum negara masih dalam proses di Pengadilan Agama Kota Pekanbaru, Riau.

"Dia tidak mau pisah sama saya, tapi saya tak anggap dia suami lagi.

Saya sudah tak tahan dianiaya.

Dia pun juga sudah nikah sirih dengan wanita lain.

Jadi, kebun sawit tak boleh dipanen sama dia, padahal punya orangtua saya.

Hasil panen juga buat biaya sekolah dan makan dua anak sama saya.

Anak yang paling tua sama dia (suami)," kata I.

Sejak menikah 1999 silam, I juga mengaku sudah sering mengalami kekerasan dari suaminya.

Mulai dari dipukul, ditendang, ditampar hingga kepala dibenturkan ke dinding.

Bahkan, korban mengaku sering diancam dibunuh.

"Dia sudah berapa kali mau bunuh saya.

Memang dia itu mau membunuh saya, biar kebun sawit dan semua harta bisa dikuasainya.

Padahal kebun sawit dan semua harta milik orangtua saya.

Dia cuma terima enaknya saja.

Dia ambil mobil dan rumah terus dikasih ke istri barunya itu.

Sedangkan saya sendiri sekarang ngontrak rumah," kata I.

(Kompas/ Kontributor Pekanbaru, Idon Tanjung) (TribunLombok/ Sirtupillaili)

#Sumbawa

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved