Mengenal Maria Clara Yubilea, Gadis 19 Tahun Lulus Cumlaude S1 Meski Gifted dan Berkebutuhan Khusus

Nah, selain disabilitas yang kita kenal, anak gifted atau anak berbakat juga termasuk berkebutuhan khusus, termasuk Lala yang usia 19 tahun lulus S1.

Editor: Asytari Fauziah
Kompas.com
Maria Clara Yubilea Sidharta (19) menjadi mahasiswa termuda yang diwisuda dan meraih gelar cum laude dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Sabtu (31/8/2019) bersama kedua orangtuanya. Lala diwisuda bersama ibunya Patricia Lestari Taslim yang menyelesaikan S2 Pendidikan Luar Biasa UNY. 

Sering kali, hal ini menimbulkan masalah psikologis yang sulit diatasi sendiri bila tidak ada dukungan dari lingkungan sosial, terutama keluarga dan sekolah.

2. Perhatian

Menurut situs resmi Special Needs, anak gifted sulit memperhatikan di kelas, dan kadang salah didiagnosis dengan ADD atau ADHD.

Ketika anak-anak yang berbakat tidak diberi bahan yang menarik dan menantang, mereka secara alami menjadi bosan dan mencari hal-hal lain untuk memenuhi pikiran mereka atau hanya melamun untuk menghabiskan waktu.

Ini bukan perilaku yang harus disalahkan, justru ini pertanda anak gifted membutuhkan kesempatan belajar lebih untuk merangsang kemampuan kognitifnya.

Maria Clara Yubilea Sidharta (19), si anak jenius memiliki banyak bakat di bidang seni. Salah satunya tari Bali. Lala didampingi kedua orangtuanya B. Boy Rahardjo Sidharta dan Patricia Lestari Taslim.
Maria Clara Yubilea Sidharta (19), si anak jenius memiliki banyak bakat di bidang seni. Salah satunya tari Bali. Lala didampingi kedua orangtuanya B. Boy Rahardjo Sidharta dan Patricia Lestari Taslim. (Kompas.com)

3. Motivasi

Anak-anak yang berbakat juga dapat menunjukkan kurangnya motivasi karena beberapa alasan yang mirip seperti poin nomor 2.

Ketika anak-anak tidak tertantang, maka mereka tidak bisa tumbuh. Akibatnya, mereka menjadi bosan dan gelisah.

Jika kebosanan ini menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, maka anak-anak hanya akan menyerah pada sekolah dan kehilangan motivasi untuk mengikuti pelajaran di kelas, dan mungkin muncul keinginan tidak bersekolah sama sekali.

Jika anak Anda yang berbakat mulai menunjukkan tanda-tanda tidak tertarik ketika datang ke sekolah, maka Anda perlu mengambil tindakan untuk memastikan dia diberikan kurikulum yang lebih menarik dan menantang.

4. Komunikasi verbal

Komunikasi verbal juga dapat menjadi area kebutuhan khusus bagi banyak siswa berbakat.

Para ahli berteori, kata yang diucapkan dapat menyulitkan anak-anak ini karena mereka memiliki tugas tambahan untuk menerjemahkan ide-ide rumit di kepala mereka ke dalam bahasa yang dapat dipahami orang lain.

Proses ini dapat menyebabkan keraguan abnormal ketika berbicara, gagap, dan frustrasi di pihak anak dan kadang-kadang orang-orang di sekitarnya.

Untuk membantu anak Anda yang berbakat mengembangkan keterampilan komunikasi verbal yang baik, dorong dia untuk memikirkan apa yang akan dia katakan sebelum dia mengatakannya.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved