Berita Terpopuler

POPULER Kenangan Buruk Tertimpa Runtuhan saat Gempa Palu, Paramita Kini Lumpuh Separuh Badan

Mata Paramita (29) berkaca-kaca mengingat peristiwa gempa Palu yang membuat badannya lumpuh separuh.

Editor: Asytari Fauziah
(KOMPAS.COM/ERNA DWI LIDIAWATI)
Paramita, salah satu korban gempa yang tertimpa tembok roboh saat gempa 28 September 2018 lalu, hingga membuat setengah badannya dari pinggul ke kaki lumpuh, Kamis (2/7/2020). 

TRIBUNMATARAM.COM - Mata Paramita (29) berkaca-kaca mengingat peristiwa gempa Palu yang membuat badannya lumpuh separuh.

Saat ini, Mita hanya mengandalkan kesetiaan sang suami untuk mengurusnya dan kedua buah hatinya.

Ia sangat sedih lantaran tidak bisa mengabdikan diri sebagai istri karena kondisi tubuhnya.

Berikut selengkapnya kisah Paramita.

 Pilunya Cerita Suroto 10 Tahun Cuma Tiduran Menatap Langit-langit Tanpa Bicara, Tak Tahu Sebabnya

 Putrinya di-PHK & Ditinggalkan Istri, Kondisi Pria yang Lumpuh 5 Tahun Lalu Baru Diketahui Petugas

Rumah kos di bilangan Jalan Sungai Manonda, Lorong Syukur, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah tampak lengang.

Paramita, salah satu korban gempa yang tertimpa tembok roboh saat gempa 28 September 2018 lalu, hingga membuat setengah badannya dari pinggul ke kaki lumpuh, Kamis (2/7/2020).(KOMPAS.COM/ERNA DWI LIDIAWATI)
Paramita, salah satu korban gempa yang tertimpa tembok roboh saat gempa 28 September 2018 lalu, hingga membuat setengah badannya dari pinggul ke kaki lumpuh, Kamis (2/7/2020).(KOMPAS.COM/ERNA DWI LIDIAWATI) ()

Waktu saat itu tengah menunjukkan pukul 14.00 Waktu Indonesia Tengah. Para penghuni kos memilih untuk berdiam di dalam rumah,  untuk ngaso.

Tak terkecuali Paramita (29), seorang ibu rumah tangga dengan dua anak.

Saat KOMPAS.com bertandang  ke rumahnya, ia tengah berbaring di kamarnya.

Ia tak bisa bangun kalau tak dibantu. Bencana alam yang terjadi 28 September 2018 silam menjadi mimpi buruk buat Paramita.

Setengah badannya, dari pinggul hingga kaki lumpuh. Saat gempa terjadi, Mita berusaha lari keluar. Namun, tembok kamar roboh dan menimpa setengah badannya.

"Saya teriak minta tolong, untung ada tetangga yang mencoba membantu mengeluarkan saya dari reruntuhan tembok kamar," tutur Mita, Rabu (1/7/2020).

Sejurus kemudian dia terdiam, matanya berkaca kala mengingat peristiwa itu. Tak mudah menghapus kenangan buruk yang dialaminya. Namun dengan tegar ia terus bertutur.

Kala itu, Jumat 28 September 2018, saat adzan Magrib berkumandang, tiba-tiba lantai yang dipijaknya bergoyang hebat.

Dengan sekuat tenaga ia berusaha lari keluar rumah bersama dua buah hatinya Mohammad Agung  dan Lutfia. Saat peristiwa itu terjadi Agung berusia 5 tahun, dan adiknya,Lutfia baru berusia 4 tahun.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved