Breaking News:

Praktik Aborsi Ilegal Pasutri di Bekasi Terbongkar: Tersangka Bukan Dokter, Sudah Beroperasi 5 Tahun

Polisi berhasil membongkar praktik aborsi ilegal yang dilakukan pasangan suami istri di Bekasi.

THINKSTOCK
Ilustrasi 

Di dekat rumah praktik aborsi ilegal masih terdapat kebun pisang dan pohon bambu, tanda bahwa perkampungan cukup sepi dari hiruk pikuk padat penduduk.

Ketua RT01 RW05 Kusnadi mengaku warga setempat tidak mengetahui adanya praktik aborsi ilegal di rumah tersebut.

"Tahunya itu rumah tinggal aja, karena memang enggak ada plang klinik atau semacemnya," kata Kusnadi, Rabu (10/2/2021).

Saat penggerebekan, Kusnadi ikut mendampingi pihak kepolisian.

Dia melihat terdapat tiga orang yang diamankan dan sejumlah barang bukti.

Selain mengamankan pemilik rumah, polisi membawa sejumlah barang-barang dari lokasi.

Aksi Bejat Guru Cabuli Siswi SMP di Blitar, Janji Beri Nilai & Biayai Kuliah, Pakai Obat Anti Hamil

Lokasi rumah praktik aborsi ilegal di Kampung Cibitung, RT01 RW05, Kelurahan Padurenan, Mustikajaya, Kota Bekasi.

"Saya kurang tahu apa yang dibawa," terangnya.

Kondisi rumah sudah kosong sejak penggerebekan tersebut.

Di dalam teras, masih tampak satu unit sepeda motor dan mobil terparkir.

Namun, tidak ada satupun penghuni rumah yang mendiami setelah kasus praktik aborsi terbongkar.

Pasang Tarif Rp 5 Juta

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan pasutri ST dan ER mematok harga jutaan untuk sekali aborsi.

"Tarifnya yang dia terima Rp 5 juta," kata Yusri saat merilis kasus ini di Polda Metro Jaya, Rabu (10/2/2021).

Dalam melancarkan aksinya, tersangka juga memanfaatkan peran calo.

Bahkan, kata Yusri, calo tersebut mendapat keuntungan lebih besar dibandingkan ST dan ER.

"Ada pembagiannya. Rp 5 juta si korban membayar. Rp 3 juta untuk calo dan Rp 2 juta untuk yang melakukan tindakan," ujar dia.

Yusri memastikan pasutri ini membuka praktik aborsi ilegal di rumahnya, bukan klinik.

Ketiga tersangka memiliki peran masing-masing.

ST bertugas mempromosikan, ER berperan sebagai eksekutor.

Sedangkan RS adalah orang yang melakukan aborsi atau pasien.

Kepada polisi, ST dan ER mengaku sudah lima kali melakukan praktik aborsi ilegal di kediamannya.

Barang bukti yang berhasil diamankan di antaranya satu kantong plastik berisi jasad janin hasil aborsi.

Selain itu ada satu set alat vakum, tujuh botol air infus dan selang, serta, satu kotak obat perangsang aborsi.

Ketiga tersangka dijerat Pasal 194 Jo Pasal 75 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Tersangka ER Bukan Dokter

Yusri mengatakan tersangka ER bukan berprofesi sebagai dokter.

Tersangka ER hanya belajar melakukan aborsi dari tempat dia bekerja sebelumnya.

"ER ini sebagai pelaku yang melakukan tindakan aborsi. Dia tidak memiliki kompetensi sebagai tenaga kesehatan, apalagi jadi dokter," kata Yusri.

Berdasarkan hasil penyelidikan, ER pernah bekerja di klinik aborsi di kawasan Tanjung Priok pada tahun 2000.

Di tempat itu, ER bekerja selama empat tahun di bagian pembersihan jasad janin yang telah diaborsi.

"Dari situlah dia belajar untuk melakukan tindakan aborsi," ungkap Yusri.

Lanjut Yusri, ER hanya menerima permintaan aborsi dengan usia janin di bawah 2 bulan.

"Bagi dia usia (janin) di bawah delapan minggu itu mudah untuk dihilangkan atau dibuang buktinya karena masih berupa gumpalan darah," ujar dia.

Jika ER sebagai eksekutor praktik aborsi, suaminya ST bertugas untuk mempromosikan usaha istrinya.

Dari informasi kepolisian, ST memasarkan jasa aborsi ilegal itu melalui website dan WhatsApp.

"Bentuk pemasarannya itu melalui media sosial. Yang memasarkan itu suaminya, ST," kata Yusri.

Melalui website tersebut, pasien akan terhubung ke sebuah nomor Whatsapp untuk berkomunikasi.

Di nomor itu calon pasien dan eksekutor menyepakati harga aborsi.

"Korban janjian di salah satu tempat yang sudah disepakati dan deal dengan harganya."

"Korban atau si ibu yang akan aborsi ini dibawa ke tempat aborsi di kediamannya (tersangka)," terang Yusri.

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Lima Tahun Tinggal Bertetangga, Warga Tak Ada yang Tahu Aktivitas Pasutri Pelaku Aborsi di Bekasi

BACA JUGA : Tribunnewsmaker.com dengan judul Praktik Aborsi Ilegal Pasutri di Bekasi Terbongkar: Pasang Tarif Rp 5 Juta, Tersangka Bukan Dokter.

Editor: Irsan Yamananda
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved